Rembulan tenggelam di wajahmu

Judul : Rembulan tenggelam di wajahmu

jumlah hal : 426 hal

penulis : Tere Liye

penerbit : Republika

genre : Fantasy

Tutup mata kita, tutup pikiran kita dari carut marut kehidupan. Mari berfikir takzim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datag kepada kita, lantas lembut berkata : “Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung. Lima pertanyaan. Lima jawaban.”

Rembulan tenggelam di wajahmu. 
Rembulan tenggelam di wajahmu, novel fantasi yang menyuguhkan lima pertanyaan sederhana namun rumit penyelesaiannya. Pertanyaan yang selalu berkecamuk selama puluhan tahun hidup Ray, yang mungkin juga tengah kita pikirkan. 

Pada pertanyaan pertama ia mendapatkan “hidup adalah serangkaian sebab-akibat” sebagai jawabannya. Bagaimana manusia yang satu dengan manusia yang lain akan saling terhubung. Membentuk formasi yang akan sulit diterjemahkan. Ada yang saling menguntungkan, juga banyak yang saling merugikan.

Kita lebih sering menyebutnya dengan aki-reaksi. Bagaimana apa yang kita lakukan sedikit banyak mampu berakibat bagi orang lain. Jim Azami (tokoh novel kampus hijaiah) menerjemahkannya dengan sederhana, begini katanya “ketika kita merasa terhambat oleh sesuatu, mungkin seseorang tidak melakukan perannya dengan baik. Sebaliknya, ketika kita selalu terlambat berperan dengan baik. Boleh jadi ada orang lain yang juga sedang terhambat langkahnya gara-gara kita. Bukankah hidup adalah serangkaian sebab-akibat?”

Ray muda bisa menjadi sebab untuk ‘Diar’ menjempu akhir terbaiknya. ‘Diar’ bisa menjadi sebab hancurnya bongkahan hitam yang mengendap dalam dada penjaga panti. Ray bisa menjadi sebab untuk ‘Ilham’ belajar memahami arti rendah hati, ia juga menjadi sebab ‘Natan’ bisa mewujudkan mimpinya untuk menyentuh hati setiap jiwa dengan bait-bait indahnya.

Masih banyak contoh rangkaian sebab akibat yang disuguhkan, yang membuat kita akan percaya bahwa dunia memang bisa sesempit daun kelor. Kisah keterhubungan yang begitu rumit dengan bumbu pahit. Jelas, tak akan banyak orang yang bisa dengan mudah meyadarinya. Harus ada usaha untuk membuka mata lebih lebar, agar kita bisa memahaminya. Tentu dengan hati yang lebih lapang. Karena ketentuan-Nya seringkali tak serupa dengan kehendak kita. 

“Mengapa hidup begitu tak adil? Mengapa orang dengan perangai baik selalu mendapat jalan yang buruk sedangkan orang dengan perangai buruk selalu mendapat jalan yang baik?”

Begitulah kurang lebih pertanyaan kedua yang membenak dalam batin Ray. Dalam pikirnya, terlalu banyak kejadian getir yang menimpa orang-orang baik disekitarnya. Terlalu banyak hal-hal baik yang gagal tercapai padahal hanya tinggal satu langkah itu semua tergenggam. 

Namun prasangka itu terpatahkan. Jawaban yang ia dapatkan jauh berbeda. Kehidupan ini selalu adil. Karena katanya keadilan langit mengambil berbagai bentuk, berbagai sisi yang sulit diterka. Kadang datang dengan canda tawa. Juga datang dalam duka nestapa. 

Orang dengan wajah menyenangkan itu berkata. Apakah dengan ragam bentuk keadilan yang tidak kita ketahui lantas membuat kita pantas berkata bahwa Tuhan tidak adil? Tuhan berbuat curang?

“Waktu itu kau sering bertanya mengapa Tuhan memudahkan jalan bagi orang-orang jahat? Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Beribu wajahnya. Berjuta bentuknya. Hanya satu cara untuk berkenalan dengan bentuk-bentuk itu. Selalulah berprasangka baik. Maksudnya adalah selalulah berharap sedikit . Ya, berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala keadilan Tuhan.” 

Jadi, apakah hidup ini adil? Jawabannya Ya. 

Pada pertanyaan ketiga Ray kembali dihadapkan pada kenyataan pahit. Istri tercintanya pergi untuk selama-lamanya. Jika kita cocokkan maka pertanyaannya akan menjadi “Mengapa orang-orang baik begitu cepat pergi?” atau “ mengapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hamba-Nya?”

Jawabnya, orang-orang yang memiliki tujuan hidup, maka dia tidak akan pernah bertanya soal ini. Baginya semua kesedihan yang dialami adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Seseorang yang memiliki tujuan hidup,maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya, kenapa dia harus dilemparkan lagi ke kesedihan. Baginya semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan semua untuk menjemput tujuan itu. 

  Jika boleh ditambahkan, seseorang pernah berkata good people die young. Orang-orang baik terkadang cepat pergi karena Tuhan-Nya telah teramat rindu. Muhammad Al-Fatih misalnya, usianya masih muda ketika ia menghadap ajal. Padahal ia tengah berproses untuk menyelesaikan ekspedisi selanjutnya. Tapi hal ini tidak berarti bahwa orang yang tidak mati muda tidak baik. Usia adalah rahasia. Ia tak bisa dihitung ataupun diterka. Ia sudah ditetapkan bagi setiap pemilik jiwa. Kita hanya harus terus berupaya agar kebaikan menyertai sampai penghujung nanti. 

Pertanyaan keempat. Mengapa hati selalu merasa kosong, terasa hampa? Padahal kita berada dalam gelimangan harta misalnya, atau kita memiliki semua yang kita ingini sebelumnya. Ternyata jawabannya sederhana, karena bisa jadi kita tengah berkubang dalam siklus mengerikan, terjebak dalam keinginan-keinginan dunia. Katanya, orang yang mencintai dunia dengan keterlaluan tetap tidak akan mendapatkan jawaban dari dunia. 

Ada kisah hebat yang ditambahkan bang Tere dalam bukunya. Kisah dua pemahat, begini ceritanya.

Dulu pernah hidup dua pemahat hebat. Mereka terkenal hingga diundang Raja berlomba di istananya. Mereka diberikan ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan. Persisi di tengah ruangan dibentangan tirai kain. Sempurna membatasi, memisahkan. Sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat pemahat yang lain. Mereka diberikan waktu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing.

Pemahat pertama memutuskan menggunakan seluruh pahat, alat-alat, dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membut pahatan indah di tembok batunya. Dia juga menggunakan cat-cat warna, hiasan-hiasan, dan segalanya. Orang ini terus memahat berhari-hari, tidak mengenal lelah, hingga menghasilkan pahatan yang luar biasa indah. 

Tirai kemudian dibuka, tercenganglah pemahat pertama. Mereka dia sudah bekerja keras siang-malam, persis dihadapannya, pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding lebih indah darinya. Berkilau indah. Dia meminta waktu tambahan untuk membuat pahatan yang lebih elok lagi. Tirai dibuka untu kedua kalinya. Dia kembali ternganga demi melihat pahatan dihadapannya. Dia kembali meminta tambahan waktu, hingga berkali-kali. Dan dia selalu merasa dinding batu miliknya kalah indah. 

Pemahat kedua sejatinya tidak melakukan apapun, dia hanya menghaluskan dinding secemerlang mugkin, membuatnya bagai cermin. Sehingga setiap kali tirai dibuka, dia sempurna haya memantulkan hasil pahatan dari pemahat pertama. 

Itulah beda antara orang yang keterlaluan mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikapinya. Orang-orang yang terus merasa hidupnya kurang maka dia tidak akan pernah puas. Tapi orang-orang bijak, dia bisa merasakan kebahagiaan melebihi orang terkaya sekalipun. 

Pernah mendengar sabda Nabi tentang hubungannya dengan dunia? Katanya, hubungan kita dengan dunia tidak lebih dari seseorang yang tengah melakukan perjalanan lantas ia berteduh di bawah sebuah pohon sebelum kembali melanjutkan perjalanan. 

Hanya singgah sebentar. Bahkan Abu Bakar mengajarkan sebuah doa kepada kita. Doa agara Allah menjadikan dunia berada dalam genggaman bukan dalam perasaan (hati).

Inilah pertanyaan terakhir, pertanyaan kelima. Setelah kerajaan bisnisnya merambah ke berbagai segi, di usia yang kian menua Ray mengalami ragam penyakit yang melumpuhkan kegagahannya. Membuat ia kembali bertanya mengapa harus ada rasa sakit berkepanjangan? Kenapa tidak langsung saja ia pergi?

Pertanyaan yang tak bisa dipungkiri bahwa kita juga tentu pernah merasakannya. Dan beginilah jawabannya, pertanyaan itu tentang definisi ukuran-ukuran. Apakah yang disebut kejadian menyenangkan? Apakah yang disebut kejadian menyakitkan? Pertanyaan itu adalah tentang perbandingan. Keduanya tidak ada bedanya. Semua itu hanyalah perbandingan. Mempunyai harta benda itu baik, miskin papa itu jelek. Benar-benar ukuran yang tidak hakiki. 

Ketahuilah, ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan, maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu kau akan menjadi manusia yang pandai bersyukur. 

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu kufur, maka pasti azab-Ku amat berat. “ (Q.S Ibrahim : 7)

Ini firman Allah, janji-Nya bagi kita. Bersyukur bisa dilakukan dalam dua hal. Dengan ucapan maupun perbuatan. Dengan ucapan lazimnya kita ungkapkan dalam kalimat hamdalah serta ragam pujian lainnya. Sedang perbuatan, bisa kita ungkapkan dengan sedekah, dengan menjadi bermanfaat bagi yang lainnya. Serta lebih banyak lagi. 

Inilah lima pertanyaan hebat yang ingin dibagikan bang tere melalui kisah Ray. Karya karyanya memang bukan main, selalu membanjir dengan pelajaran serta pengalaman. Lebih hebat dari drama 49 days juga goblin dalam menggambarkan kisah dialam berbeda.

Semoga bukan hanya Ray saja yang mendapatkan kesempatan emas dalam menjemput akhir hidupnya. Tapi kita yang belajar darinya juga bisa, bahkan mungkin lebih baik? Aamiin. 

Bab penutup berjudul rembulan tenggelam di wajahmu mengingatkan kisah seorang wanita pelacur yang bisa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang tengah haus. Di bab ini, dijelaskan mengapa Ray bisa mendapat kesempatan hebat ini. Alasannya sederhana, karena Ray begitu senang menatap rembulan. Tanpa ia sadari ketika hal itu terjadi, ia menjadi hamba yang begitu takzim dan begitu sarat akan syukur. Selalu saja dia berterima kasih kepada Tuhan karena telah menghadirkan rembulan di atas sana untuk bisa ia nikmati. 

Rasa syukur yang begitu ikhlas itu membuat ia mendapatkan kesempatan hebat. Sama seperti wanita pelacur tadi. Kasih sayang Allah berlimpah tanpa kita sadari. Aa Gym dulu pernah bercerita tentang ke santunan Allah ini. 

Dalam islam, selalu ada penghargaan terhadap hal-hal yang dianggap sepela. Contohnya, Rasul melarang seseorang untuk berbicara dengan orang lain dalam keadaan menunggangi kuda. Kenapa? Karena kasihan kudanya. Jika sedang berbincang, turunlah terlebih dahulu. Naik kembali nanti setelah perbincangan selesai.  Hebat? Luar biasa hebat. Ada adab untuk hal hal kecil. Apalagi yang besar bukan?

Akhirnya kisah rembulan tenggelam di wajahmu selesai. Review yang panjang wkwkwk    

Akankah kita bertemu lagi? 

Syawal telah hampir sampai pertengahan. Itu artinya ramadhan telah lama meninggalkan. tak ada lagi malam malam  yang berbunyi riang dari anak-anak di pekarangan. Tak ada derap derap lomba menuju masjid untuk mengisi barisan tarawih selepas tunai isya. 

.
Tak ada rintihan rintihan kecil dari si kecil ketika jarum jam hanya baru sampai angka dua belasan. Tak ada penantian yang paling membahagiakan selain bedug maghrib berkumandang. 

.
Tak ada lagi keramaian sore hari di pinggir jalan. Tak ada kedamaian yang menyusup pelan ke dalam relung terdalam. 

.
Ramadhan, saat dimana setan di belenggu tak bisa menuntaskan tugasnya. Saat dimana gembok mengunci rapat pintu neraka.

.
Ramadhan, saat dimana kepala begitu sering menyentuh lantai, saat dimana tangan begitu ringan dalam berbagi, bahkan lisan seakan terlatih membaca firman-Nya. 

.
Satu satunya bulan yang menyuguhkan kebaikan melebihi seribu bulan dalam salah satu malamnya. Bulan dimana firman tuhan turun dengan berkahnya. 

.
Ramadhan, akankah kita bertemu lagi? 

.
syawal 13, 1438 H 

.

Kehidupan modern 

“Dulu, penyebab terbesar menumpuknya harta warisan tanpa pewaris adalah perang dunia. Hari ini, bukan lagi. Data statistik membuktikan, dua puluh tahun terakhir, nilai properti warisan yang tidak di klaim di berbagai negara meningkat signifikan, ribuan aset  tanpa pemilik. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kehidupan modern. Itulah jawabannya. “

Hari ini, kita mengandalkan tekhnologi untuk menyapa. Keluarga-keluarga terpisah secara fisik dan emosional, mereka hanya bertemu dalam acara penting, seperti pernikahan atau pemakaman. Lima orang di meja makan maka lima-limanya memegang gadget. Enam orang di ruang tamu, enam-enamnya sibuk dengan HP.  Tidak ada lagi percakapan seperti dulu. Angka perceraian naik dengan signifikan, dan lebih banyak lagi anggota keluarga, orang tua dan anak-anak yang tercerai berai oleh pertengkaran. 

“Alamat fisik tidak lagi penting, digantikan no HP, email, akun social media, dan sebagainya. Kita kesulitan menelusuri hubungan kekerabatan, karena kotak surat sudah tidak ada lagi di depan rumah. Belum lagi mobilisasi umat manusia tidak terbendung, setiap hari ratusan ribu pesawat terbang membawa penumpang  ke seluruh penjuru dunia. Kehidupan modern yang indvidualis membawa aspek negatif dalam hubungan keluarga. Menghancurkan ikatan keluarga lebih masif dibanding peperangan.”

Dinukil dari buku “Tentang Kamu” hal 440-441

Potongan adegan dimana Eric memberikan gambaran tentang peliknya akibat dari kehidupan modern kepada zaman zulkarnaen terekam dengan baik ketika Foto ini hadir. 


Mendekatkan yang jauh itu memang baik. Namun menjauh kan yang dekat juga tidak seharusnya dilakukan. Hadirnya ragam bentuk social media memang mempermudah sampainya informasi. Dari ujung dunia yang satu menuju ujung dunia yang lain kabar berita berembus dengan cepat. Dari mulai berita gembira hingga duka bisa sampai diberbagai telinga. 

Bukan hanya bentuk audio yang bisa kita nikmati, namun visualnya pun bisa kita lihat saat ini. Besarnya manfaat yang ditimbulkan seimbang dengan besarnya kemudharatan yang diberikan. Bagaimana seringnya kita abai dengan orang sekitar  karena sibuk dengan yang jauh entah dimana. 

Dunia maya membuat seakan akan kita tengah berlomba mempertontonkan kebahagiaan yang sebetulnya tak seperti itu adanya. Berebut menuliskan cecaran kemarahan kepada seseorang tanpa kenal muka. 

Social media bukan hanya mampu merenggangkan yang dekat, namun juga mampu membakar yang jauh. Dalam dunia pendidikan keluarga kita mengenal pentingnya  komunikasi sebagain intisari pendidikan. Tatap muka dalam satu ruang yang sama. Membicarakan semua yang memenuhi sesak dada. Saling mendengarkan dan mencari kesimpulan. Bukankah seharusnya begitu?

 

Awalnya kalimat ini begitu sulit dipahami. Namun dengan seiring silih bergantinya hari. Kita dapat mengerti. Bagaimana satu postingan mampu membuat kita menambah kawan  namun juga mampu membuat kita menambah lawan. 

Hari ini, kita bisa menyaksikan bagaimana lidah dengan kejamnya menjadi alat bukti untuk saling menyalahkan. Bagaimana satu baris kalimat mampu membuat satu umat berang dibuatnya. 

Tak ada lagi tatap muka, tak ada lagi kesempatan untuk saling bicara. Kita lebih asyik untuk membaginya dengan khalayak. Memperlihatkan kepada banyak orang aib sesama saudara. Padahal rumus dalam islam jelas. Jika kita menutupi aib saudara, maka Allah lah yang akan menutup aib kita. 

Di dunia nyata seolah olah kita bersikap biasa. Namun di dunia maya kita bersikap seenaknya. Tak ada tatakrama. Pun tak ada toleransi terhadap sesama. Kita bisa bicara sesuai apa yang memenuhi kepala. Tak perlu merasa takut orang lain tersinggung dengan kalimat kita. Yang penting kita menikmatinya, itu sudah cukup. 

Sesuai dengan apa yang dikatakan tokoh Eric tadi. Lima orang di meja makan lima-lima nya memegang gadget. Enam orang di ruang tamu, enam-enamnya sibuk dengan hp. Bukan hanya ketakutan akan kehilangan keharmonisan dalam keluarga saja. Namun juga ada ketakutan hilangnya adab terhadap teman juga saudara. 

Manusia makhluk social. Ia tak bisa hidup sediri, ia membutuhkan orang lain. Kita tahu kalimat ini dari sejak mengenyam pendidikan dasar. Kita pun mengerti, sebaik-baiknya mereka yang jauh kita tetap membutuhkan orang-orang terdekat terlebih dahulu. 

Menemukan kawan baru di ujung dunia memang perlu, sedikit banyak itu akan membuat kita menambah pengalaman serta pengetahuan yang baru. Namun jangan sampai kita terlalu asyik dengan dunia baru hingga meninggalkan dunia yang jelas jelas ada di sisi kanan dan kiri kita. 

Jangan sampai kita terlambat menyadari pentingnya kehadiran mereka di saat-saat terakhir kita di dunia. Membuat seluruh tubuh menjadi ngilu karena kesalahan yang tak pernah kita rasakan saking asyiknya. 

Semoga kalimat eric tadi bukan hanya menjadi pecutan. Namun bisa menjadi bahan untuk ajang perbaikan. Selamat memperbaiki. Wah PR kita bertambah lagi. Jadi, mau menutup akun yang mana ? hehe.  

TAHADDU TAHABBU 

Lirik demi lirik  lagu ada gajah dibalik batu milik wali menjadi pengiring silih bergesernya hadiah dengan bungkusan Koran itu. Berganti dari satu tangan ke tangan yang lain dengan terburu-buru. Wajah mereka merah padam. Pengap karena berdesakan dengan teman yang lain.

Senyum selalu mengembang ketika tubuh dengan sendirinya bergerak mengikuti irama lagu. Terlihat ketidak sabaran dari mimiknya. Menanti hadiah apa kiranya  yang mereka dapatkan pada kesempatan tukar kado kali ini. 

Lagu berhenti maka perputaran hadiah pun ikut terhenti. Hadiah dengan ragam ukuran itu kini telah berada di tangan pemilik yang baru. Dengan tergesa, tangan-tangan mungil milik mereka mulai membuka hadiah dalam genggaman. Binaran matanya tak bisa disembunyikan. 

Setelah hadih berbungkus Koran tadi terbuka, ada yang tertawa geli karena mendapat hadiah tempat pencil pink untuk wanita padahal dia laki-laki. Ada juga yang  mendapat alat tulis beserta kelengkapannya. Ada yang cemberut karena mendapat gantungan kunci atau jepit rambut. Dan lain sebagainya. 

Tapi dibalik itu, mereka tetap menyimpan rasa bahagia. Bahagia karena dapat membagi hal kecil dengan rekan lainnya. Jepit rambut, gantungan kunci, sabun pencuci, alat tulis dan yang lainnya adalah bentu kasih juga perhatian dari teman-teman mereka. Bentuk nyata dari arti bahwa mereka satu sama lain layak untuk saling menyayangi. 

Ramadhan memang selalu menjadi moment istimewa. Bukan hanya karena bulan ini penuh berkah. Juga karena adanya kesempatan untuk saling menyayangi lebih besar. Ada lahan untuk menambah kadar rasa cinta antar saudara. 

Tahaddu tahabbu. Itu yang Rasul ajarkan. Saling memberi maka kalian akan saling mencintai. Pertukaran barang yang tidak biasa karena ditambahi buncahan rasa. Dibalik kisah memberi ini terselip makna lain. Yaitu memberikan perhatian,memberikan perhatian tentang  apa kiranya yang tengah dibutuhkan oleh kawan yang lain sehingga hadiah yang diberikan mampu bermanfaat baginya. 

Dan rasa itu, akan semakin bersemi jika bentuk perhatian tadi diberikan dengan ikhlas juga pas sesuai porsinya. Tak akan ada hadiah yang sampai bila tak ada perhatian serta kasih sayang dibaliknya. Dan yang paling penting, semua tak akan hadir tanpa izin dari-Nya. 

Bukan kah ini berarti konsep dari Tahaddu tahabbu adalah terima kasih dan kembali kasih? Untuk itu, Terima Kasih  

 

Pangalengan, 11 juni 207

MAAF ITU SUSAH

Suatu kali, anak-anak membawa hawa menyebalkan yang luar biasa. Biasanya satu kali teguran sudah dapat membuat mereka duduk diam. Namun kali itu tidak sama sekali. Berkali-kali teguran, berkali-kali pula pelanggaran. Suara anak lainnya yang tengah mentasmi iqra tidak bisa terdengar dengan jelas. Sehingga mereka diminta untuk mengulang-ulang bacaan. 

Tanpa terkontrol, suara meninggi. Permintaan yang biasanya disampaikan dengan nada tenang berubah menjadi sentakan. Jelas itu membuat mereka terdiam, terlihat rona sesal diwajahnya. Namun, detik berikutnya rona sesal itu berganti dengan rona mengesalkan. Kepintaran *jika tidak ingin disebut kenakalan* mereka jauh lebih hebat dari sebelumnya. 

Dengan kesal, tugas imla yang biasanya diberikan 5 berubah menjadi 15. Mereka mungkin tak sadar, bahwa wanita dihadapannya tengah marah. Namun mereka bisa merasakan, sehingga tak ada protes disana. 

Terlihat jelas kelesuan ketika menulis. Lucunya, mereka terus memancing pertanyaan. Padahal si wanita tengah mogok bicara. Rona sesal di wajah si anak tadi, sebenarnya tidaklah lebih besar dari yang diraskaan wanita dihadapan mereka. 

Ada rasa dongkol luar biasa yang menyelimuti. Cara berpikir si wanita dan anak-anak itu jelas berbeda. Bagi dia, seharusnya anak-anak diam ketika giliran temannya mentasmi. Sedangkan bagi mereka *anak-anak* selesai mentasmi artinya waktunya bermain.

Amarah, jika diluapkan nyatanya tak membuat tuntas masalah. Justru seringnya menambah masalah. Mogok bicara tadi mungkin termasuk salah satu cara untuk meredamnya. Ribuan sentakan tak hanya membuat si anak terkejut, lebih dari si pemberinya juga pasti terkejut.

“Kalo sudah melakukan salah, harusnya minta apa?”

“Maaf?”

“Jadi mau minta maaf?”

“Maaf ya bu.”

“Ibu juga maaf ya.”

Ringan ya? Nyatanya itu beratttt. Satu kata yang disebut “Maaf” itu ternyata membuat kepala memutar berulang-ulang. Ucapkan tidak, ucapkan tidak. Seolah-olah, bila diucapkan akan menimbulkan bencana. Namun jika tidak juga tetap berbahaya.

Katanya, salah satu kunci agar menjadi tenaga pengajar yang baik adalah dengan sabar. Namun jauh dari itu, memberikan contoh yang baik bisa bernilai lebih tinggi dari sabar. Dan kalian tahu, keduanya adalah hal yang sulit dilakukan. Mudah untuk kita lafalkan, namun sama sekali tak ringan ketika dipraktekan.

Se-tak mudah kata maaf tadi diucapkan.

PESAN BERSAMBUNG

Suatu pagi, anak-anak dipilih berkelompok putra dan putri. Setiap kelompok terdiri atas lima orang. Mereka akan melakukan permainan pesan bersambung. Lima orang tadi bersiap berbaris rapi dengan rentang jarak dari siswa ke siswa. 

.

Seorang guru yang akan membisikan pesan pertama kali, setelahnya  pesan tadi  disambungkan kepada teman di depannya dengan berbisik pula.  Daya tangkap setiap anak berbeda. Ada yang mampu mengikuti dengan satu kali bisikan, ada juga yang harus berulang-ulang. Ada anak yang mampu menyampaikan pesan secara utuh ada juga yang berubah atau bahkan berkurang.

.

Setelah pesan sampai pada anak yang terakhir, maka ia harus mengucapkannya dengan lantang. Dari sekian banyak kelompok ternyata tak ada satupun kelompok yang berhasil. Tak jarang pesan yang disebutkan oleh mereka membuat gurunya tertawa. 

.

Contohnya, pesan yang dibisikan oleh seorang guru adalah “baju-kayu-susu-sapu” menjadi “susu-sapi” atau “Rojak mengajak membeli rujak” menjadi “beli rujak.” Ada lagi “Ayah-tidur-saya-kabur” menjadi “Ayah-kabur.”

.

Kisah ini ternyata hampir sama dengan salah satu cerita. Cerita tentang si kerbau yang mati karena sebuah prasangka. Begini ceritanya.

.

Seekor KERBAU yang mati karena sebuah opini.

.

Sehabis pulang dari sawah, KERBAU rebahan di kandang dengan wajah lelah dan nafas yang berat. Datanglah seekor ANJING, kemudian KERBAU berkata: “aah.. temanku aku sungguh lelah dan kalau boleh besok aku ingin istirahat saja.”

.

ANJING pergi dan di jalan dia berjumpa dengan KUCING yang sedang duduk di sudut tembok, kemudian ANJING berkata: “tadi saya bertemu dengan KERBAU dan dia besok ingin beristirahat dulu. Sudah sepantasnya sebab boss beri kerjaan terlalu berat.”

.

KUCING lalu bercerita kepada KAMBING: “KERBAU komplain boss memberinya pekerjaan terlalu banyak dan berat, besok dia tidak mau bekerja lagi.”

.

KAMBING pun bertemu AYAM dan dia berkata : “KERBAU tidak senang bekerja dengan boss lagi, mungkin ada pekerjaan yang lebih baik.”

.

AYAM pun berjumpa dengan MONYET dan dia bercerita pula: “KERBAU tidak akan kerja lagi untuk boss dan ingin kerja ditempat yang lain.”

.

Saat makan malam MONYET bertemu dengan boss dan berkata: “Boss, si KERBAU akhir-akhir ini telah berubah sifatnya dan ingin meninggalkan boss untuk bekerja di boss yang lain.” Mendengar ucapan si MONYET sang boss marah besar dan tanpa bertanya dia lalu menyembelih si KERBAU yang dinilai telah berkhianat kepadanya. 

.

Ucapan si KERBAU ternyata malah menjadi belati yang menikam dirinya sendiri.

.

Satu pemahaman yang kita gali, adakalanya satu pembicaraan tak perlu sampai ke telinga orang lain. Cukup kita simpan sendiri sebagai peneman, karena terkadang orang-orang lebih suka menelan bulat bulat perkataan yang sampai pada mereka tanpa meminta kejelasan dari sumbernya.

.

Orang-orang cenderung meneruskan kembali perkataan sesuai opini mereka. Tanpa mau repot-repot melakukan tabayyun dengan pihaknya. Padahal jauh-jauh hari Rasul telah mencontohkan sifat tabayyun ini.

.

Masih ingat haditsul ifki? Cerita bohong yang disampaikan oleh salah seorang munafiqin madinah bernama Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap salah satu istri Nabi yaitu Siti Aisyah r.a yang dituduh berselingkuh dengan Shofwan bin Muathal. 

.

Kejadian ini membuat gempar seluruh kota, bahkan sedikitnya mampu membuat Rasul terhasut. Begitu banyak orang menggunjing Siti Aisyah hingga membuatnya jatuh sakit. Hingga Allah sendirilah yang meluruskan kisah ini dengan menurunkan wahyunya. 

.

Tabayyun adalah sebuah usaha dalam menemukan kebenaran terhadap suatu berita langsung dari sumbernya, hal ini menjadi upaya untuk meminimalisir prasangka yang salah diantara berita tadi.

.

Setidak-tidaknya jika belum mampu untuk melakukan Tabayyun, berilah udzur terhadap suatu perkara. Dalam suatu hadits dikatakan minimal kita memberikan 70 udzur terhadap sesuatu yang bisa menimbulkan opini di kepala. 

.

Susah? Jelas, tak mudah menghentikan ragam prasangka yang memenuhi pikiran, apalagi jika itu sudah menjadi habits keseharian. Namun percayalah, tak ada usaha yang berujung sia-sia. Sebagaimana rumput yang akan tetap tumbuh meski bunga ditanam, habits burukpun akan tetap hadir meski habits baik tengah bermekaran. Namun, jika  bunga tidak ditanam maka yang ada hanya rumput yang menjalar. Jika habits baik tak coba dimunculkan, maka  yang ada hanyalah habits buruk yang ditimbulkan.

.

Pernah mendengar karunia mendengar? Bagaimana mendengarkan terkadang menjadi sesuatu yang menyejukkan. Atau hadits nabi yang berbunyi bicaralah yang baik jika tidak bisa maka diam ? bagaimana lisan lebih sering terpeleset karena tidak disertai dengan pengawasan.

.

Begitulah, bisa jadi hal yang kita anggap remeh hakikatnya adalah hal besar yang tengah Allah ajarkan kepada kita. Seperti pesan bersambung ini.  

Pangalengan, 29 mei 2017

IT’S OK, I LIKE MYSELF

       The 7 habits of happy kids collection karya Sean Covey menceritakan tentang habit 1 sampai 7. Buku pertama bercerita tentang habit 1 yaitu be proactive dengan judul “Just the way I am” (diriku apa adanya). Buku ini bercerita tentang Pockey si landak yang sedih karena duri-durinya yang tajam selalu menjadi bahan tertawaan Biff si berang-berang, Biff mengatakan bahwa duri-duri yang dimiliki Pockey itu seperti tusuk gigi dan jelek. Lalu teman-teman menghiburnya. Goob mengatakan bahwa duri-durinya tidak jelek. Shopie mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan duri-duri yang dimiliki pockey. Jumper si kelinci mengatakan bahwa duri-duri yang dimiliki Pockey adalah wajar, Karena Pockey seekor landak, sama seperti Jumper yang sudah seharusnya melompat-lompat karena dia seekor Kelinci. Lalu, Pockey memikirkan kata-kata teman-teman baiknya. Dia mulai menerima dan melihat bahwa duri-durinya memang tidak jelek, bahkan indah berkilauan jika terkena sinar matahari.

.

        Keesokan harinya, ketika Biff menertawakan duri-durinya, Pockey tidak lagi terpengaruh. Dia dengan bangga mengatakan duri-durinya tidak jelek dan dia menyukai dirinya sendiri, dan Biff tidak lagi menertawakannya

.

        Cerita ini bertujuan untuk mengajarkan bahwa kita bertanggung jawab atas diri sendiri. Bagaimanapun kita mengendalikan perasaan atas perkataan-perkataan orang yang mungkin mengganggu. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dikatakan orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan sikap kita terhadap kata-kata itu.

                   -dinukil dari buku happy little soul

        “it’s ok, I like myself” kalimat itu yang diucapkan oleh Kirana dalam salah satu video postingan ibuk. Isi videonya sederhana. Selayaknya video anak-anak pada umumnya. Terlihat lucu dan mengundang tawa.

        Ternyata, kalimat i like myself diajarkan  oleh ibuk karena terinspirasi dari buku karya Sean Covey. Just the way I am adalah buku pertama yang menerangkan tentang kebiasaan menerima diri sendiri.

         Diluar sana, tentunya banyak orang yang jauh lebih baik dari kita. Entah dari segi fisik ataupun yang lainnya. Dari cara pandang dan juga cara juang. Di luar sana, tak semua manusia berpikir baik tentang kita selayaknya kita yang juga tak mungkin selalu mampu berpikir baik tentang mereka.

“Kalo ada yang bilang, kok, hidung Kirana pesek? Bilang aja, nggak papa, I like myself, gitu!”

        Kalimat sederhana yang diajarkan ibuk pada anaknya. Tentang cara menghadapi dunia di kemudian hari yang tak akan sama seperti lembutnya kasih ibuk di rumah.

         Seperti yang dituliskan dalam buku happy little soul tadi bahwa Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dikatakan orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan sikap kita terhadap kata-kata itu. 

        Pada akhirnya hidup adalah pilihan. Haruki Murakami berkata, rasa sakit tak bisa kita hindari namun menderita adalah pilihan.

        Tak perlu bersusah payah mendengarkan apa yang orang lain katakan. Karena sejatinya kita bisa memilih. Memilih untuk mengabaikannya atau mengambilnya sebagai pelajaran. Memilih untuk menjadikannya penderitaan atau baiknya diabaikan.

      i like myself bukan tentang membanggakan diri. Namun tentang menerima apa adanya diri sendiri. 

Mengenai menerima diri sendiri. Allah mengatakan dalam Al-Qur’an surat At-Tin ayat ke 5 yang artinya “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Tak ada yang salah dengan bentukan luar kita masing-masing. Yang salah adalah cara pandang kita dalam menentukkan sudut yang hendak kita lihat.

Kita berbeda. Itu jelas.

Tak semua yang terlahir kembar memiliki rupa dan laku yang sama. Apalagi jika hanya adik-kakak atau bahkan saudara. Yang lebih tentu banyak bedanya.

Tak perlu khawatir, karena janji Allah itu benar. Ia menciptakan makhluknya dengan sebaik-baik penciptaan. Kita dipandang buruk oleh orang lain tak lantas membuat kita menjadi buruk dalam pandangan Allah. Begitupun sebaliknya, pandangan baik yang ditujukan oleh orang lain kepada kita tak lantas membuat Allah ikut memandang kita baik.

Terlahir sebagai wanita tak lantas membuat kita rendah dan menjadi warga kelas dua dimata-Nya. Begitupun sebaliknya, terlahir sebagai laki-laki tak juga membuat Allah bangga terhadapnya.

Allah hanya memandang kita dari satu segi. Ketakwaan.

Untuk itu, tak perlu lagi membandingkan diri kita dengan siapapun. Karena kita jelas berbeda. Kita tak dirancang sama dengan yang lainnya. Kita special dengan masing-masing kemampuannya.

Allah created you in the best way, best shape, and the best color. So stop comparing yourself with others. You’re perfect the way you are.