Rembulan tenggelam di wajahmu

Judul : Rembulan tenggelam di wajahmu

jumlah hal : 426 hal

penulis : Tere Liye

penerbit : Republika

genre : Fantasy

Tutup mata kita, tutup pikiran kita dari carut marut kehidupan. Mari berfikir takzim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datag kepada kita, lantas lembut berkata : “Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung. Lima pertanyaan. Lima jawaban.”

Rembulan tenggelam di wajahmu. 
Rembulan tenggelam di wajahmu, novel fantasi yang menyuguhkan lima pertanyaan sederhana namun rumit penyelesaiannya. Pertanyaan yang selalu berkecamuk selama puluhan tahun hidup Ray, yang mungkin juga tengah kita pikirkan. 

Pada pertanyaan pertama ia mendapatkan “hidup adalah serangkaian sebab-akibat” sebagai jawabannya. Bagaimana manusia yang satu dengan manusia yang lain akan saling terhubung. Membentuk formasi yang akan sulit diterjemahkan. Ada yang saling menguntungkan, juga banyak yang saling merugikan.

Kita lebih sering menyebutnya dengan aki-reaksi. Bagaimana apa yang kita lakukan sedikit banyak mampu berakibat bagi orang lain. Jim Azami (tokoh novel kampus hijaiah) menerjemahkannya dengan sederhana, begini katanya “ketika kita merasa terhambat oleh sesuatu, mungkin seseorang tidak melakukan perannya dengan baik. Sebaliknya, ketika kita selalu terlambat berperan dengan baik. Boleh jadi ada orang lain yang juga sedang terhambat langkahnya gara-gara kita. Bukankah hidup adalah serangkaian sebab-akibat?”

Ray muda bisa menjadi sebab untuk ‘Diar’ menjempu akhir terbaiknya. ‘Diar’ bisa menjadi sebab hancurnya bongkahan hitam yang mengendap dalam dada penjaga panti. Ray bisa menjadi sebab untuk ‘Ilham’ belajar memahami arti rendah hati, ia juga menjadi sebab ‘Natan’ bisa mewujudkan mimpinya untuk menyentuh hati setiap jiwa dengan bait-bait indahnya.

Masih banyak contoh rangkaian sebab akibat yang disuguhkan, yang membuat kita akan percaya bahwa dunia memang bisa sesempit daun kelor. Kisah keterhubungan yang begitu rumit dengan bumbu pahit. Jelas, tak akan banyak orang yang bisa dengan mudah meyadarinya. Harus ada usaha untuk membuka mata lebih lebar, agar kita bisa memahaminya. Tentu dengan hati yang lebih lapang. Karena ketentuan-Nya seringkali tak serupa dengan kehendak kita. 

“Mengapa hidup begitu tak adil? Mengapa orang dengan perangai baik selalu mendapat jalan yang buruk sedangkan orang dengan perangai buruk selalu mendapat jalan yang baik?”

Begitulah kurang lebih pertanyaan kedua yang membenak dalam batin Ray. Dalam pikirnya, terlalu banyak kejadian getir yang menimpa orang-orang baik disekitarnya. Terlalu banyak hal-hal baik yang gagal tercapai padahal hanya tinggal satu langkah itu semua tergenggam. 

Namun prasangka itu terpatahkan. Jawaban yang ia dapatkan jauh berbeda. Kehidupan ini selalu adil. Karena katanya keadilan langit mengambil berbagai bentuk, berbagai sisi yang sulit diterka. Kadang datang dengan canda tawa. Juga datang dalam duka nestapa. 

Orang dengan wajah menyenangkan itu berkata. Apakah dengan ragam bentuk keadilan yang tidak kita ketahui lantas membuat kita pantas berkata bahwa Tuhan tidak adil? Tuhan berbuat curang?

“Waktu itu kau sering bertanya mengapa Tuhan memudahkan jalan bagi orang-orang jahat? Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. Beribu wajahnya. Berjuta bentuknya. Hanya satu cara untuk berkenalan dengan bentuk-bentuk itu. Selalulah berprasangka baik. Maksudnya adalah selalulah berharap sedikit . Ya, berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala keadilan Tuhan.” 

Jadi, apakah hidup ini adil? Jawabannya Ya. 

Pada pertanyaan ketiga Ray kembali dihadapkan pada kenyataan pahit. Istri tercintanya pergi untuk selama-lamanya. Jika kita cocokkan maka pertanyaannya akan menjadi “Mengapa orang-orang baik begitu cepat pergi?” atau “ mengapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hamba-Nya?”

Jawabnya, orang-orang yang memiliki tujuan hidup, maka dia tidak akan pernah bertanya soal ini. Baginya semua kesedihan yang dialami adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Seseorang yang memiliki tujuan hidup,maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya, kenapa dia harus dilemparkan lagi ke kesedihan. Baginya semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan semua untuk menjemput tujuan itu. 

  Jika boleh ditambahkan, seseorang pernah berkata good people die young. Orang-orang baik terkadang cepat pergi karena Tuhan-Nya telah teramat rindu. Muhammad Al-Fatih misalnya, usianya masih muda ketika ia menghadap ajal. Padahal ia tengah berproses untuk menyelesaikan ekspedisi selanjutnya. Tapi hal ini tidak berarti bahwa orang yang tidak mati muda tidak baik. Usia adalah rahasia. Ia tak bisa dihitung ataupun diterka. Ia sudah ditetapkan bagi setiap pemilik jiwa. Kita hanya harus terus berupaya agar kebaikan menyertai sampai penghujung nanti. 

Pertanyaan keempat. Mengapa hati selalu merasa kosong, terasa hampa? Padahal kita berada dalam gelimangan harta misalnya, atau kita memiliki semua yang kita ingini sebelumnya. Ternyata jawabannya sederhana, karena bisa jadi kita tengah berkubang dalam siklus mengerikan, terjebak dalam keinginan-keinginan dunia. Katanya, orang yang mencintai dunia dengan keterlaluan tetap tidak akan mendapatkan jawaban dari dunia. 

Ada kisah hebat yang ditambahkan bang Tere dalam bukunya. Kisah dua pemahat, begini ceritanya.

Dulu pernah hidup dua pemahat hebat. Mereka terkenal hingga diundang Raja berlomba di istananya. Mereka diberikan ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan. Persisi di tengah ruangan dibentangan tirai kain. Sempurna membatasi, memisahkan. Sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat pemahat yang lain. Mereka diberikan waktu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing.

Pemahat pertama memutuskan menggunakan seluruh pahat, alat-alat, dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membut pahatan indah di tembok batunya. Dia juga menggunakan cat-cat warna, hiasan-hiasan, dan segalanya. Orang ini terus memahat berhari-hari, tidak mengenal lelah, hingga menghasilkan pahatan yang luar biasa indah. 

Tirai kemudian dibuka, tercenganglah pemahat pertama. Mereka dia sudah bekerja keras siang-malam, persis dihadapannya, pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding lebih indah darinya. Berkilau indah. Dia meminta waktu tambahan untuk membuat pahatan yang lebih elok lagi. Tirai dibuka untu kedua kalinya. Dia kembali ternganga demi melihat pahatan dihadapannya. Dia kembali meminta tambahan waktu, hingga berkali-kali. Dan dia selalu merasa dinding batu miliknya kalah indah. 

Pemahat kedua sejatinya tidak melakukan apapun, dia hanya menghaluskan dinding secemerlang mugkin, membuatnya bagai cermin. Sehingga setiap kali tirai dibuka, dia sempurna haya memantulkan hasil pahatan dari pemahat pertama. 

Itulah beda antara orang yang keterlaluan mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikapinya. Orang-orang yang terus merasa hidupnya kurang maka dia tidak akan pernah puas. Tapi orang-orang bijak, dia bisa merasakan kebahagiaan melebihi orang terkaya sekalipun. 

Pernah mendengar sabda Nabi tentang hubungannya dengan dunia? Katanya, hubungan kita dengan dunia tidak lebih dari seseorang yang tengah melakukan perjalanan lantas ia berteduh di bawah sebuah pohon sebelum kembali melanjutkan perjalanan. 

Hanya singgah sebentar. Bahkan Abu Bakar mengajarkan sebuah doa kepada kita. Doa agara Allah menjadikan dunia berada dalam genggaman bukan dalam perasaan (hati).

Inilah pertanyaan terakhir, pertanyaan kelima. Setelah kerajaan bisnisnya merambah ke berbagai segi, di usia yang kian menua Ray mengalami ragam penyakit yang melumpuhkan kegagahannya. Membuat ia kembali bertanya mengapa harus ada rasa sakit berkepanjangan? Kenapa tidak langsung saja ia pergi?

Pertanyaan yang tak bisa dipungkiri bahwa kita juga tentu pernah merasakannya. Dan beginilah jawabannya, pertanyaan itu tentang definisi ukuran-ukuran. Apakah yang disebut kejadian menyenangkan? Apakah yang disebut kejadian menyakitkan? Pertanyaan itu adalah tentang perbandingan. Keduanya tidak ada bedanya. Semua itu hanyalah perbandingan. Mempunyai harta benda itu baik, miskin papa itu jelek. Benar-benar ukuran yang tidak hakiki. 

Ketahuilah, ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan, maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu kau akan menjadi manusia yang pandai bersyukur. 

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu kufur, maka pasti azab-Ku amat berat. “ (Q.S Ibrahim : 7)

Ini firman Allah, janji-Nya bagi kita. Bersyukur bisa dilakukan dalam dua hal. Dengan ucapan maupun perbuatan. Dengan ucapan lazimnya kita ungkapkan dalam kalimat hamdalah serta ragam pujian lainnya. Sedang perbuatan, bisa kita ungkapkan dengan sedekah, dengan menjadi bermanfaat bagi yang lainnya. Serta lebih banyak lagi. 

Inilah lima pertanyaan hebat yang ingin dibagikan bang tere melalui kisah Ray. Karya karyanya memang bukan main, selalu membanjir dengan pelajaran serta pengalaman. Lebih hebat dari drama 49 days juga goblin dalam menggambarkan kisah dialam berbeda.

Semoga bukan hanya Ray saja yang mendapatkan kesempatan emas dalam menjemput akhir hidupnya. Tapi kita yang belajar darinya juga bisa, bahkan mungkin lebih baik? Aamiin. 

Bab penutup berjudul rembulan tenggelam di wajahmu mengingatkan kisah seorang wanita pelacur yang bisa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang tengah haus. Di bab ini, dijelaskan mengapa Ray bisa mendapat kesempatan hebat ini. Alasannya sederhana, karena Ray begitu senang menatap rembulan. Tanpa ia sadari ketika hal itu terjadi, ia menjadi hamba yang begitu takzim dan begitu sarat akan syukur. Selalu saja dia berterima kasih kepada Tuhan karena telah menghadirkan rembulan di atas sana untuk bisa ia nikmati. 

Rasa syukur yang begitu ikhlas itu membuat ia mendapatkan kesempatan hebat. Sama seperti wanita pelacur tadi. Kasih sayang Allah berlimpah tanpa kita sadari. Aa Gym dulu pernah bercerita tentang ke santunan Allah ini. 

Dalam islam, selalu ada penghargaan terhadap hal-hal yang dianggap sepela. Contohnya, Rasul melarang seseorang untuk berbicara dengan orang lain dalam keadaan menunggangi kuda. Kenapa? Karena kasihan kudanya. Jika sedang berbincang, turunlah terlebih dahulu. Naik kembali nanti setelah perbincangan selesai.  Hebat? Luar biasa hebat. Ada adab untuk hal hal kecil. Apalagi yang besar bukan?

Akhirnya kisah rembulan tenggelam di wajahmu selesai. Review yang panjang wkwkwk    

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s