Bu, surga itu dimana? 

Bu, surga itu dimana?

Seperti pagi-pagi sebelumnya. Anak-anak berbaris rapi di halaman. Menyanyikan lagu dan ikrar Al-Qur’an sebelum memasuki kelas masing-masing. 4 banjar tersusun dengan acak-acakan, meski sudah diatur agar rapi sepertinya mereka memang lebih suka untuk berbaris sesuka hati. 

Setelah memasuki kelas, biasanya anak-anak dibawah komando wali kelas masing-masing memulai belajar dengan membaca do’a. melatih guru dan juga muridnya untuk terbiasa melakukan sesuatu dengan pengawalan do’a meski hanya ucapan basmalah. 

Materi pelajaran setiap hari berbeda. Kadang membaca iqro dan menulis abjad, atau juga menulis hijaiah, berhitung dan lain sebagainya. Mengenalkan angka dan huruf juga bukan pekerjaan mudah. Yang paling sulit adalah mengumpulkan konsentrasi mereka agar fokus mendengarkan pelajaran yang tengah disampaikan oleh guru. 

Selain diselingi dengan lagu-lagu anak agar mereka tidak mudah bosan, para guru juga biasanya mengajak mereka berbicara dengan mengajukan pertanyaan, selain untuk melatih anak berkomunikasi juga sebagai cara menumbuhkan rasa percaya diri dihadapan teman-temannya. 

Para guru dituntut untuk lebih bersabar karenanya, bersabar untuk menjawab pertanyaan yang berentet karena memang rasa tahu mereka menuntut pemenuhan. Juga bersabar untuk terus memancing pertanyaan bagi anak yang  pemalu. 

Ada loh anak-anak yang sulit sekali diajak berbicara. Untuk sekadar mengangguk pun sepertinya malu. Tapi begitulah, sebagaimana para guru yang belajar menikmati peran sebagai orang tua paruh waktu, anak-anakpun sejatinya tengah membiasakan diri bertemu dengan “orang tua” barunya. 

Tak sedikit anak-anak yang senang sekali bercerita meski tak ditanya. Pernah suatu kali ada seorang anak berkata seperti ini. “Bu, Tadi saya pipis sendiri loh.” Bagi yang mendengar sebenarnya itu lucu, hal sepele pula. Namun bagi mereka itu pencapaian besar. Setelah sekian tahun akhirnya mereka berani untuk membersihkan kotoran mereka sendiri. 

Mereka juga sering bertanya mengapa guru ataupun orang tuanya melarang melakukan ini, atau mengapa orang tua serta gurunya meminta agar melakukan itu. Contohnya, pada jum’at pagi anak-anak dijadwalkan untuk mewarnai. Melatih tangan serta mengenalkan beragam bentuk juga warna. 

Anak-anak diminta agar, warna yang digoreskan tidak melebihi garis gambar. Seorang anak laki-laki tiba-tiba bertanya “Bu, kenapa warnanya tidak boleh keluar garis?” atau juga “Bu, boleh tidak warna bunga hitam.” 

Bagi mereka, itu semua adalah hal yang baru, mereka ingin tahu bagaimana bila gambar bunga dipoles dengan warna hitam ataupun mengapa sebuah warna tidak boleh keluar dari garis gambar. Sehingga tugas orang tua bukan melarang ataupun menyalahkan namun cukup mengarahkan. Memberi tahu mana yang benar tanpa mematahkan harapan maupun memutus paksa opini mereka. 

Usia mereka masih terkategori golden age. Banyak sekali pertanyaan kritis yang disampaikan hingga tak jarang membuat sang guru kesulitan menyederhanakan penjelasan.

Setelah menyelesaikan do’a belajar serta mengucap salam. Pagi itu, seorang anak laki-laki maju kedepan dan langsung duduk di hadapan sang guru. Matanya menatap lamat dan jernih khas anak-anak. 

“Bu, Surga itu dimana?” pertanyaan itu lolos dengan mudah, membuat seseorang dibalik meja terkejut bukan main.

“Memangnya kenapa?” sang guru balik bertanya.

“Kemarin ibu itu bilang, anak nakal bisa masuk neraka dan anak baik bisa masuk surga.”  Ada helaan nafas yang lolos tanpa disadari oleh sang guru. 

Ternyata, selain dituntut untuk aktif berbicara juga bersikap sabar dihadapan anak. Ada satu tuntutan lagi yang kerap dilupakan. Yaitu, berhati-hati dalam menyederhanakan pengetahuan. Karena bisa jadi mereka mengolahnya dengan persepsi yang berlainan. Persepsi yang lebih sederhana lagi untuk mereka.

Hari sebelumnya ketika belajar bahasa arab, anak-anak diminta berdiri bersama dan bernyanyi. Mereka diajari satu persatu kosa kata dengan cara bermain. Selain agar mudah diingat juga agar mereka tak cepat bosan. Tanpa disadari seorang anak perempuan menangis dengan kencang, bahunya naik turun sedangkan satu tangannya terangkat menutupi mata yang berair dan memerah. 

Ternyata anak tadi adalah korban keusilan temannya yang lain, mungkin memang seorang teman  yang lain dengan sengaja mencubit pipinya agak keras karena kesal, namun mereka hanya anak-anak yang belum tahu bagaimana meluapkan rasa marah. 

Setelah dipisah, seorang guru lantas mendamaikan dan tak lupa untuk mengingatkan bahwa disana mereka adalah saudara, tak ada saudara yang mau menyakiti satu sama lain. Sang guru juga menyinggung nyinggung rasa marah, katanya rasa marah itu datangnya dari setan. Setan suka dengan anak yang mudah marah agar kelak setan bisa membawanya ke neraka dan dijauhkan dari surga. 

“Nak, surga itu tempat yang sangat indah. Sehingga yang bisa memasukinya hanyalah orang-orang yang hidup dengan kebaikan. Tempatnya ada dekat bagi anak yang baik, dan jauh bagi anak yang nakal.” Begitulah sang guru menyederhanakan penjelesan tentang letak surga. 

“Nanti jika sudah mati kita bisa lihat kan bu?”

“Bisa, asal dari kecil kita belajar berbuat baik dan percaya pada Allah yang maha baik.”

Seperti itu sudah cukup untuk saat ini, kelak setelah mereka tumbuh lebih besar mereka akan jauh lebih memahami tentang letak surga dan bagaimana cara menggapainya. 

Bahwa untuk sampai pada tempat itu bukan dikarenakan amal yang banyak, ataupun sedekah yang terus dikeluarkan. Melainkan hanya atas keridhaan sang pemiliknya. tak salah memang ketika seorang hamba mengharap balasan indah nan agung berupa surga atas seluruh amalannya. Namun tak sedikit orang yang salah kaprah akannya. 

Sampai-sampai seorang Rabi’ah al-adawiyah, wanita yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam ketaatan kepada Allah ini pergi keluar rumah dengan kedua tangan terangkat. Satu tangannya membawa api dan satu lagi membawa air. Melihat itu salah seorang tetangga  bertanya.”Hendak pergi kemana engkau dengan kedua benda itu wahai Rabi’ah?”. Dengan tatapan penuh kesungguhan serta suara yang tegas ia menjawab “Aku akan pergi kelangit, akan kubakar surga dengan api ini dan akan ku padamkan api neraka dengan air ini. Agar manusia tidak menyembah Allah dikarenakan kedua hal ini.”

Maksudnya baik, Rabi’ah tengah mengingatkan seluruh manusia bahwa hendaknya amalan yang mereka perbuat cukup diniatkan hanya karena Allah. Biarkan surga menjadi balasan yang Ia berikan kelak. 

Sebelum berakhir, ada kalimat dari salah satu panglima perang terhebat yang dimiliki kaum muslim. Yakni Abdullah bin Rawahah, sesaat sebelum pasukan dengan jumlah 3000 orang itu sampai di tempat laga. Mereka sempat menciut karena mendengar bahwa lawannya datang dengan lipatan jumlah pasukan yang lebih banyak. 200.000 pasukan disiapkan kaum Romawi untuk menggempur kaum muslim. Perang yang saat ini kita kenal dengan nama perang mu’tah itu telah menelan 3 orang panglima terbaik muslim. 

Abdullah bin Rawahah dengan keteguhan hatinya kembali mengingatkan para pasukan dengan kalimat agungnya, “Kita tidak berperang karena jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita berjuang semata mata untuk AGAMA INI yang Allah subhanahu wata’ala telah memuliakan kita dengannya.”

Pada saat raga melemah, hati mulai ragu serta semangat perlahan melebur akan seluruh kesulitan jalan kebaikan ini, ingatlah bahwa kita tengah berjuang semata-mata untuk agama ini. Agama yang telah Allah ridhai. Bukankah tujuan kita adalah untuk sampai pada ridha-Nya?. 
Wallahu’alam. 

p.s : ini hanya pengingat bagi saya yang masih sering melemah dalam berjuang. 

Pangalengan, 28 juli 2017 17:36 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s