Al-ukhuwah

Leave a comment

1 December 2017 by Naima

​“ Ukhuwah itu ibarat satu janji dalam hati. Tidak dapat ditulis, tidak dapat dibaca, tidak seorangpun tahu ia ada. Namun hakikatnya ia terpatri kuat dalam dada. Tidak berubah dalam perjalanan masa. Sekejap di mata, selamanya di jiwa.”

                                                      Dewi N Aisyah

Dalam Arkanul bai’ah yang memuat 10 pokok penting bagi seorang pendakwah. Point ke 9 diduduki oleh Al-Ukhuwah yakni persaudaraan dalam agama. Atau sederhananya ia kita sebut sebagai ikatan maupun persahabatan, yang mengikat pokok – pokok hati dalam satu barisan, dalam pagelaran ketaatan, dalam rangka mengingatkan bukan menjatuhkan, dalam rangka bersaing menuju ketaatan bukan bersaing menuju kemaksiatan. 

Berbicara tentang ukhuwah, maka kita akan mengarungi kisah haru nan menyenangkan. Mendalami perjalanan tentang memberi dan berbagi. Ukhuwah akan mengajarkan tiap-tiap diri untuk rela memberi juga mendidik tiap-tiap hati untuk siap berbagi . 

Kita mengenal ukhuwah terbaik yang dicontohkan Rasulullah pada zamannya. Membuat kita iri dengan kisah mereka yang mewangi. Sami’na wa’atho’na pada pemimpin memberikan kita teladan akan keselamatan. Mereka oleh Rasul dipersaudarakan, tidak dibeda-bedakan antara si kaya dan si miskin. Tidak pula direndahkan antara si hitam dan si putih pun antara si budak dan si merdeka. Mereka sama, yang membuat beda adalah takwa. Dan mereka menerima, karena hati hati mereka telah terikat dalam ukhuwah. 

Ukhuwah adalah kenikmatan, di dunia pun di akhirat. Dengan ukhuwah, akan ada yang siap menyebut nama kita dihadapan Allah kelak. Meminta lirih dengan sangat agar kita dipersatukan dengan mereka dalam nikmat. 

Ukhuwah tak selamanya berkisah tentang jalan yang mulus, adakalanya ia berliku dan terjal. Sebagaimana yang dirasakan Abu Dzar dan Bilal. Abu Dzar yang berasal dari kaum jahil ternyata masih menyimpan kejahilan yang tentu membuatnya menyesali perbuatan hingga meminta Bilal untuk menginjak kepalanya sebagai balasan. Namun inilah indahnya ukhuwah,  dengan santun Bilal menolak dan berkata bahwa Abu Dzar tetaplah saudaranya. 

Jangan salah dalam mengartikan ukhuwah, ikatan ini hadir, untuk saling mengikat dalam ketaatan menuju keselamatan, bukan dalam solidaritas yang kebablasan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Abul Bukhtari bin Hisyam. Sebelum perang badar, Rasulullah mengingatkan para sahabat untuk menghindari beberapa nama, dengan kata lain menyelamatkan mereka. Salah satunya adalah Abul Bukhtari  ini, karena ia sempat berperan dalam proses penyudahan boikot yang dirasakan oleh Rasulullah selama kurun waktu tiga tahun di Mekah. Namun karena sahabat dekatnya tidak termasuk kedalam nama-nama yang harus dihindari oleh kaum muslimin, atas nama solidaritas ia berkata, “Kalau sahabatku ini tidak selamat, maka aku juga.”

Dengan ukhuwah, pada masanya Hasan Al-Banna menggubah sebuah do’a yang kita kenal sebagai do’a rabithah. Pendiri ikhwanul muslimin ini memberikan teladan luar biasa dalam kiprah dakwahnya. Memberikan sebuah semangat juga kisah nun hangat mengenai ukhuwah. 

Lantunan do’a syahdu yang membuat si pembaca larut akan keindahan untaiannya. Membuat mereka mencintai sesama saudaranya. Dalam buku syarah do’a rabithah, Muhammad Lili Nur Aulia selaku penulis memberikan kalimat yang indah, tulisnya ‘Saudaraku, kuhadirkan wajahmu dalam do’aku.’ Memberikan gambaran bahwa ukhuwah memang telah mengikat hati-hati ini, bukan hanya dalam kata namun lebih-lebih dalam do’a

Seorang guru pernah bekata bahwa, nikmatnya ukhuwah itu tidak akan terasa ketika kita bahagia, namun nikmatnya ukhuwah justru akan melezat ketika kita tengah menderita. Selaras dengan ungkapan imam Ali bahwa ia akan menghitung berapa banyak temannya ketika ia tengah sengsara. 

Dalam kurun waktu 3 tahun, pemutusan hubungan sosial serta boikot ekonomi secara total dirasakan oleh kaum muslim. Syi’b Abi Thalib, sebuah tempat terpencil di sebelah timur Mekah yang dikelilingi perbukitan dan padang pasir menjadi bukti kuatnya ukhuwah berlandaskan akidah. Meskipun dari dua klan tersebut tidak semuanya menyatakan beriman, terlepas dari itu, para mukmin tetap tegar dalam pengasingan. 

Inilah ukhuwah, kata magis yang berbuah manis. 

Ada sebuah bait-bait puisi yang ditulis oleh Ustadz Felix mengenai ukhuwah. Mengenai sahabat yang mengikat dalam taat. 

Kita tak lahir di tempat yang sama

bahkan hidup kitapun jauh berbeda

sikap,sifat, gaya, cara kita tersendiri

benci, murka, marah, duka pun tersendiri

Tapi kita disatukan impian yang sama

diperjalankan dengan langkah tak beda

digandengkan dengan cita-cita tak ternilai

diikat dengan harga yang takkan terbeli  

Kerap kali kita berbeda pendapat dan berselisih

bagiku aku benar, bagimu kamu lebih benar

bagiku kamu salah, bagimu aku lebih salah

begitulah kisah kita diuji, apakah karena Allah?

Berteman memang tak mudah, karena harus memahami

berteman memang tak gampang, ada pengorbanan disana

terkadang aku berpikir haruskah sendiri berjalan

seringkali aku tak tahan, mungkin lebih baik sendiri

Menempuh perjalanan ini sendiri, selesai lebih lekas

tak perlu memikirkan siapapun, selain diri sendiri

tak usah sakit hati, sebab tak dihiraukan dan dimengerti

tapi itukah yang sebenarnya aku inginkan?

Tidak, proses itulah sebenarnya harta, bukan hasil

sebab semua siap dengan hasil, tapi tidak dengan proses

kita bisa  lebih cepat sendiri, tapi tidak akan jauh

canda, tawa, ceria, duka, lara yang dibagi, itulah arti 

Aku ditanya tentang arti engkau bagiku, akupun tak tahu

yang jelas bersamamu aku malu bermaksiat, aku jauh dari dosa

dengan amalan dan tutur lisanmu aku lebih mudah mengingat Allah

itulah arti engkau bagiku, sahabat dalam ketaatan

Saat manusia dalam kebingungan, saat semua dikumpulkan

senantiasa berharap engkau dan aku dipanggil Allah Ar-Rahman

diteduhkan kita dengan naungan-Nya, dilegakan kita dengan wajah-Nya

dan dikatakan pada kita,dengan suara yang sudah kita duga

“Dimanakah orang-orang yang saling mengasihi karena keagungan-Ku?”

“Masuklah surga, engkau dan sahabat yang engkau cintai karena Aku”

Dan yang lebih mencintai saudaranya, akan mendapat tempat lebih tinggi.

dan saat itu, kau dan aku, kita, akan bersyukur, telah mencinta karena-Nya


Uhibbukum Fillah,duhai saudaraku, sungguh aku mencintai kalian semua karena Allah

.



Sahabat, cari aku di akhirat. Ajak aku ke dalam nikmat(surga) 
Pangalengan, ba’da isya

26 november 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: