Yang pasti itu, mati 

Leave a comment

5 April 2018 by Naima

​ Pelatihan pengurusan jenazah Tanggal 4 april 2018 pukul 10.00.

        Begitu tulis ketua korwat di grup whatsapp

         Wuuhhhh mendengar judulnya saja sudah membuat gemetar. Seumur-umur saya belum pernah mau bersentuhan dengan yang namanya jenazah. Bahkan setiap kali ada orang yang menitipkan kain kafan di rumah pun tak pernah mau saya sentuh. Merinding.

 Imej dari zaman saya cilik itu ya, kain putih bernama kafan adalah atribut pocong. Pakaian “setan”. Bahkan orang orang dewasa dulu cenderung menakut nakuti dengan perkara hantu. Mengerucutkan pemikiran anak-anak bahwa hantu itu menakutkan dan menakuti (kerjaannya). Memberikan pengajaran yang salah akan sosok yang bahkan tidak bisa membuat mati. 

 Kullu nafsi dzaiqotul maut. Dari kanak-kanak saya membayangi bahwa orang mati itu menakutkan, setiap kali pengeras suara masjid sudah berbunyi Innalillahi , secara otomatis bulu kuduk meremang, udara seakan dingin menusuk membuat menggigil ketakutan, suasana mencekam dan tangis pecah tidak karuan. 

 Setiap mulut berbicara “Gak nyangka ya, padahal saya kemarin baru ketemu dengan dia.” “gak percaya rasanya dia sudah tidak ada.” Dan kalimat ketidak percayaan lainnya. Seakan –akan manusia memang akan hidup abadi di dunia. 

 Namun dewasa ini, saya paham bahwa manusia tergadai dengan matinya. Berbagai kisah yang hanya sampai ditelinga atau yang dilihat langsung oleh mata membuat saya semakin yakin bahwa janji Allah itu pasti. Kita pasti mati.

 Kita tahu bahwa kematian itu terbayang menyeramkan, membuat kita takut dan menghindar. Namun kita tidak bisa, karena Allah sendiri yang menegaskannya bahwa kita tidak bisa mengulur maupun menarik waktu kematian. 

 Mengingat kematian, membuat saya ingat kisah yang disampaikan ustadz Salim tentang jenius perang abad ke tujuh muslim yakni Khalid bin walid. Kala itu ia dijamu oleh panglima romawi yang tengah menjadi musuhnya dalam medan perang. Panglima romawi tersebut menyuguhkan secangkir minuman yang sudah Khalid terka berisi racun. 

 Meski ia tahu itu racun, ia tak segan untuk meminumnya. Mengapa? Karena ia mengingat perkataan Sayyidina Abu Bakar bahwa kami adalah kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. 

 Ia teguk racun tadi dengan didahului membaca doa yang ada dalam al’matsurat kita. Hasilnya? Ia tak mati, melihat itu sang panglima romawi terheran-heran, ia (panglima romawi) berkata bahwa ia telah memasukkan ke dalam minuman itu racun yang dapat membunuh seratus orang. Mendengar penuturan tersebut Khalid lantas menjawab bahwa tidak ada satupun makhluk yang bisa mati tanpa izin Allah, meskipun ia diberikan racun yang dapat membunuh seribu orang namun ketika Allah tidak mengizinkannya untuk mati maka ia tak akan mati. 
  Kalimat Khalid bin walid begitu membekas dalam ingatan bahwa selain kita pasti mati, tanpa izin dari-Nya kita juga tidak bisa mati. Seribu satu cara pembunuhan diri dilakukan kalau memang bukan waktunya ya tidak akan jadi. Pun sebaliknya seribu satu jalan kehati-hatian yang dilakukan agar terhindar dari penyakit sampai marabahaya  jika memang sudah waktunya tentu kita akan mati.

Kemarin saya mendapat kisah mengharu dari salah seorang teman, beliau terkena serangan stroke. Sebagain anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Serangan itu dirasakan secara tiba-tiba ketika bangun tidur, saat bangun anggota tubuhnya tak dapat bergerak, mulutnya kesulitan berbicara. Padahal malam hari ia sehat walafiat. Hari kemarin ia masih bisa membersihkan rumah, masih bisa berbicara juga tilawah namun esoknya Allah cabut kenikmatan itu secara tak terduga.

Tidak kah kita juga curiga bahwa bisa saja esok lusa atau bahkan detik berikutnya Allah bukan hanya mencabut nikmat gerak namun juga mencabut nyawa kita? Berapa banyak orang yang tengah duduk diam tiba-tiba terkulay tak bernyawa? Berapa banyak orang yang sehat luar biasa esoknya telah tiada lagi di dunia? Banyak. Banyak sekali.

Saya sering diingatkan akan datangnya hari pemutus kenikmatan itu. Saat dimana kita bahkan tak bisa untuk sekadar mengguratkan senyuman di wajah. Saat dimana kita tak berdaya. Saat dimana kita kebingungan akan dibawa kemana. Saat dimana kita berpisah bukan hanya dengan keluarga namun juga harta benda dan raga.  Saat dimana kita tahu bahwa jerit penyesalan kita tiada berguna. 

Mandi dimandikan, baju dipakaikan bahkan kita disholatkan hingga dibaringkan dalam kuburan. Jika saat ini kita gunakan sabun dan shampoo merk ternama, maka nanti kita tak lagi bisa memakainya. Jika saat ini kita bingung memilih warna hingga potongan baju agar terlihat gaya, maka nanti kita hanya bisa pasrah ketika ditutupi lima lembar kain putih yang tak sehalus sutra. 

Sedari pengenalan tadi siang saya sudah membayang-bayang. Ustadz mendikte apa saja yang harus dilakukan ketika menghadapi orang yang sedang sakratul maut, bagaimana cara menalkilkan juga menyebutkan apa saja ciri orang yang meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Keadaan yang tentu kita dambakan.

Tata cara memandikan jenazah yang begitu apik, penuh kehati-hatian dan begitu menjaga aurat si mayit, tentu akan membuat siapa saja yang mengetahuinya berdecak kagum dengan syariat islam.  Ketika hidup manusia sudah diberikan aturan yang bisa menghantarkan pada keselamatan dan ketika matipun ia tetap diperlakukan dengan baiknya.  Padahal itu hanyalah seonggok tak bernyawa, yang kaku, dingin dan sudah tak berguna. Namun islam tidak membiarkannya begitu saja. 

Bagi laki-laki disediakan tiga lapis besar kain kapan untuk menutup tubuhnya. Sedangkan bagi wanita disediakan dua kain besar, satu penutup kepala (krudung), satu kain berbentuk baju dan satu kain berbentuk samping (rok). Sehingga terhitung lima lapis yang disediakan untuk wanita. 

Sepanjang pelatihan berlangsung, ustadz membuat suasana cair, beliau tidak menampakkan wajah seram yang membuat takut. Beliau menasihati kami bahwa ketika ada yang meninggal kita tidak boleh takut, karena bila bila masa nanti kita juga yang akan ada di kondisi itu. Yang harus kita lakukan adalah mendoakan dan mengurus jenazah sampai terbenam dalam kuburnya,.

Sedih adalah hal yang wajar, karena perpisahan bukan sesuatu yang menyenangkan. Saat kematian datang nanti kita akan meninggalkan semuanya tanpa sisa. Tak ada yang bisa kita bawa selain amal sholeh selama di dunia. 

Berkumpul dan bergabung dengan orang-orang sholeh tak secara otomatis menjadikan kita manusia yang bim salabim jadi sholeh. Tapi itu hanya bentuk ikhtiar kita untuk memperbaiki diri terkhusus amal ibadah. Amal yang dapat menjadi pijakan kita untuk meraih ridha-Nya. Amal yang akan menjadi langkah awal kita untuk lebih dan lebih lagi mendekat pada-Nya.  Membuat kita tulus mencintai-Nya. Mencintai Dzat yang begitu mengasihi kita selaku hamba-Nya. 

Kita tak tahu kapan, dimana, seperti apa, bagaimana caranya. Kita tak pernah tahu itu. Namun kita hanya tahu bahwa kita bisa berusaha dan berdoa. Berusaha terus mengomandoi diri dalam jalan kebaikan dengan harapan inilah jalan yang kita berakhir dengannya. Juga berdoa agar Allah berikan akhir yang baik dalam hidup kita. 

Ingat perkataan Sayyidina Abu Bakar? Kami adalah kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. Apakah kita mau memilih menjadi bagian dari kami atau kalian

Mencintai kematian bukan berarti mencarinya dengan jalan batil. Mencintai kematian bisa saja menjadi cara untuk melembutkan hati, membuat kita menjadi manusia yang ringan tangan dalam memberi dan lebih lapang dalam berbagi karena kita tahu ini tidak abadi. Ini yang akan kita tinggalkan bila sudah saatnya nanti. 

Selamat belajar untuk mencintai kematian. Saya, kalian dan siapapun itu berhak mengusahakan yang terbaik agar dapat menghadirkan akhir yang baik pula. 
Wallahu’alam
Pangalengan, 040418

Abid. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: