​Find Me 

Leave a comment

13 June 2018 by Naima


 The ballad of the dove , begitu judul cerita bercetak miring yang terpampang di halaman 1.9. dikira itu hanya kisah perjuangan seekor burung ketika bercicit. Ternyata bukan, itu kisah yang mungkin sederhana, bisa saja terdengar amat biasa dengan kemungkinan besar ditujukan sebagai cerita pengantar tidur anak-anak. 

 Meski begitu, ada pelajaran yang tentunya hendak disampaikan penulis kepada pembaca. Mari kita masuk pada kisahnya. 

 The ballad of the dove menceritakan seekor merpati yang ,menghabisakan awal musim semi, musim gugur, musim panas bahkan musim dinginnya dalam kepakan penuh pencarian. Ia terbang melewati rintik air hujan, tetesan embun, juga kepingan salju. Membawa tubuhnya melewati lautan juga daratan. Apa yang dia cari? She was searching for peace

 Yup, dia mencari kedamaian. Namun, sejauh sayapnya terbang juga sepanjang musim-musim yang dilaluinya tak juga ia temukan arti kedamaian. Dalam kesabarannya, akhirnya ia temukan satu keadaan, keadaan yang membimbing sayapnya untuk tebang mendekat. Melihat warna warni menjulang dari langit hingga mencium tanah bumi. Dia mengikuti pelangi selayaknya ia mengikuti keinginan hati. 

 And then, dia kembali pergi melewati setiap musim kali ini dengan menari menghayati setiap kepaknya tanpa mencari apapun. Karena ia tahu bahwa kedamaian ada di kedalaman hati dirinya. 

 The end.

 Kisah ini berakhir, tapi kini pertanyaan yang lain muncul. Selayaknya merpati tadi yang terbang kesana kemari dalam pencarian. Tidakkah kita juga tengah berjalan kesana kemari mengikuti arus kehidupan dalam proses pencarian?

 Bukankah kita juga tengah mencari, mencari apa itu tujuan kita diciptakan juga apa yang harus kita lakukan? Bahkan untuk perkara kedamaian rasa-rasanya itu sudah menjadi kalimat sarapan yang mengangan di pikiran. 

 Kita mencari tujuan penciptaan. Dan Allah sang pencipta dengan Maha baik nya menjelaskan bahwa tidaklah Ia ciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepadaNya. Lalu kembali kita bertanya, ibadah yang seperti apa yang diinginkanNya? 

 Dulu pada pertemuan mentoring yang entah keberapa, salah seorang pemateri pernah berkata. “Awas lohhh jangan sampai kita salah dalam mengenali maksud ibadah yang Allah inginkan. Kelak di akhirat akan datang satu golongan yang merasa sudah banyak membawa amal sholeh. Ketika sampai dihadapan Allah ia lantas berkata. ‘Ya Allah, inilah kami dengan amalam kami.’ Namun Allah menjawab ‘bukan, bukan itu amal yang aku inginkan.’

Mari kiita beranalogi sebentar, jika seorang ibu berkata kepada anaknya ‘nak, tolong ya belikan ibu tomat di warung.’ Ternyata si anak tidak tahu persisnya tomat, yang ia tahu tomat itu bentuknya bulat warnanya merah. Ternyata sampai di rumah yang dia bawa adalah apel bukan tomat. Jika kejadiannya seperti ini, mudah saja. Si anak tinggal kembali ke warung dan menukar apel itu dengan tomat. Namun jika kejadiannya seperti golongan yang salah membawa amal tadi bagaimana?”

Ayooo bagaimana? Kita jelas tak mungkin bisa kembali ke dunia untuk mengganti amal yang salah kita bukan. Bahkan ketika baru sampai alam barzakh saja kita merengek, menangis meminta seperti apapun kita tetap tidak bisa kembali ke dunia apalagi nanti jika sudah sampai di yaumil hisab .

Untuk itu, jelaslah mengapa kelak Allah akan menanyakan untuk apa masa muda kita habiskan. Apakah untuk mencari dalam taat atau maksiat. Setelah berpuluh-puluh kali mentoring saya baru paham kalau ada tiga syarat ibadah agar sesuai dengan yang Allah inginkan. 

1. Berniat karena Allah.

2. Sesuai tuntunan Rasulullah

3. Berada dalam islam.


Syarat ini harus terpenuhi keseluruhannya, bukan hanya salah satu. Karena satu saja Alfa, maka batal ibadahnya. Bisa bisa kita salah membawa bentukan ‘ibadah’ tadi. Setelah kita mengetahui tujuan penciptaan, selayaknya makhluk berakal yang selalu merasa tidak puas dan haus akan pertanyaan. Kita tetap akan melanjutkan ekspedisi pencarian ini ketingkat yang lebih ekstrim lagi. 

Apa selanjutnya? Kemana kita setelah mati.

Dari kecil kita diberi bocoran bahwa setelah mati, maka kita akan berjumpa dengan yang namanya negeri akhirat. Dulu saya menerka nerka bahwa negeri akhirat itu ada di dua tempat, dalam tanah juga diatas langit. Tidak salah lagi yang di dalam tanah adalah negeri akhirat versi para pendosa, dan yang diatas langit adalah negeri akhirat versi orang orang sholeh. 

Namun semakin dewasa, justru saya semakin bingung dengan dimana letak akhirat. Hingga akhirnya paham bahwa kita tidak diharuskan membayangkannya namun cukup mengimani. Karena jelas akal kita tak akan sampai untuk membayangkan betapa luas nya padang mahsyar, betapa surga diciptakan lebih dari kata indah dan betapa neraka Allah janjikan dengan bara yang menyala.  

Setelah mati, kita akan menjalani satu alam lainnya setelah alam dunia, yakni alam barzah. Sudah menunggu setiap nikmat bagi hamba yang taat, dan sudah tak sabar siksa menimpa bagi orang-orang yang bermaksiat. 

Kita tengah ditunggu, bahkan selalu diintai oleh malaikat maut. Berkali kali dalam satu hari ia datang hanya untuk melihat, apakah sudah sampai waktu yang Allah janjikan untuk si fulan ini.

Mati itu antrian cabut bukan antrian urut, begitu para asatidz menjelaskan. Kita hidup dalam sebuah antrian panjang menuju satu pusaran yang sama bernama kematian. Selama menunggu kita bisa memilih untuk mengisi waktu tunggu dengan ketaatan ataupun kemaksiatan, kita tidak pernah dipaksa untuk taat juga tidak pernah diperintah untuk maksiat. Kita hanya selalu diperingatkan lewat kalam mulia Nya tentang dua perkara ini. 

Dalam waktu tunggu ini tanpa sadar kita tengah berjalan selangkah demi selangkah pada pusaran tadi, kita terlalu damai dan santai dalam menjalani hidup sehingga lupa apa arti damai itu sendiri. 

Dalam penantian yang tak panjang lagi ini, kita bahkan tak bisa menjadi seekor merpati yang tak lelah mengepakkan sayap untuk mencari. Mencari arti kedamaian yang sesungguhnya. Bisa jadi karena kita tengah menikmati masa masa  indah dalam manisnya iman sehingga kedamaian tanpa perlu dicaripun sudah datang menghampiri, bersemayam dalam sanubari para pecinta kalam illahi. Atau mungkin sebaliknya, kita tengah terbuai dengan nikmat sesaat bernama maksiat sampai Allah palingkan hati kita dari kedamaian. 

Damai itu tenang, damai itu mencipta bahagia, damai itu membuat kita tak cinta dunia, damai akan menjaga kita dari kefanaan alam semesta. Damai itu ada pada hati-hati yang senantiasa mengingat Allah. Menjadikan langkahnya tertunduk karena malu dilihat Allah, menjadikan setiap tutur yang terlisan amat terjaga karena ingat ada yang siap mencatat di kanan kirinya. Menjadikan setiap tindakan yang akan diputuskan ada keterlibatan Allah di dalamnya. 

Damai itu sederhana, 

        sesederhana kepakan merpati mengikuti kata hatinya. Damai itu inti kehidupan, dan inti kehidupan adalah hanya dalam ketaatan kepada sang penggenggam nyawa di kerongkongan. 

.
Wallahu’alam
.

.
Pangalengan, april 2018

Abid. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: