Fitrah iman anak 

Leave a comment

13 June 2018 by Naima

Islam adalah agama yang sesuai fitrah manusia. Terbukti, semua perintah dan larangan dalam islam selalu logis.
Mengimani Islam pun juga adalah fitrah. 

Dalam hadits disebutkan bahwa semua Anak terlahir fitrah, Orang tuanya lah yang membuatnya menjadi nasrani atau yahudi.

 
Tidak disebutkan dalam hadits bahwa Orang tuanya lah yang membuatnya menjadi Islam. Hal ini juga bermakna bahwa iman Islam sudah diinstall oleh Allah SWT dalam diri setiap manusia, bukan menjadi Islam karena Orang tuanya atau karena orang lain.
Seumpama smartphone, iman Islam adalah aplikasi default yang tidak perlu kita download dari playstore lagi. Pemegang smartphone hanya tinggal menggunakannya, sekaligus bisa membuat aplikasi default menjadi disabled.
Ini sebenarnya melegakan bagi Orangtua, karena kita tidak perlu menebarkan benih iman kepada Anak, karena benih iman sudah ditanam oleh Allah SWT. kepada semua bayi. 

Orang tua hanya perlu menumbuhkannya, merawatnya, memupuknya agar tanaman iman ini bisa tumbuh subur dalam diri Anak.
Jadi Orang tua tidak perlu ragu, nyambung ga ya Anakku ini kalo kita mengucapkan kalimat thoyyibah? Perlu ga ya kita ngomongin ke Anak sejak dini bahwa Islam mengajarkan begini begitu? 
Tidak perlu ragu, karena Anak memang terlahir Islam, peran Orang tua untuk mengaktifkannya.
1.Maka peran pertama adalah tentang orang tua harus shalih dulu, dimana ini sesuatu yang mutlak untuk dilakukan para orang tua ketika berharap dan berdoa anak-anaknya menjadi anak yang sholih sholihah,

2.tentang terkadang kita telalu banyak meratapi kondisi ‘kekurangan‘ versi kita sendiri, sampai terlupa bahwa Allah telah memberi nikmat yang banyak, seperti ingin terburu-buru anak bisa ini bisa itu, padahal diberi amanah keturunan saja sepatutnya kita bersyukur.Pun dengan anak adalah titipan, amanah. Sepatutnya dijaga sebaik-baiknya dengan sabar dan penuh syukur

3.switch on, mengaitkan segala sesuatu di dunia ini terjadi atas peran dan kekuasaan Allah SWT tak perlu jauh-jauh, melihat ayah dan bunda saja, berbeda warna kulitnya. Satu sawo matang, satu hitam manis, *asal jangan warna ijo lumut, nanti dikira hulk😁
Kakek nenek dari ayah bunda, beda bahasa daerahnya. Karena berbeda suku nya.. dll
 dari hal sederhana dan terdekat saja, kita bisa mengeksplorasi ‘tanda2 kekuasaan Allah SWT

Atau saat melihat tanaman bagus di depan rumah bersama anak, bisa dibiasakan mengucapkan kalimat thayibah, bahwa Allah lah yang mencipta segala keindahan tsb..

Dapat pula , Ketika ada anggota keluarga baru lahir ke dunia, ajak mengucap Alhamdulillah.. semua atas pertolongan Allah.. dan seterusnya.😉

4.Peran keempat adalah, Membiasakan berdoa ketika sebelum, sesudah beraktivitas tertentu, atau saat ada kejadian tertentu.😘

….

Dan pada masanya nanti, Selanjutnya anak-anak akan banyak mengeluarkan pertanyaan.  ..

Q :“Bu, Allah itu apa sih? Bentuk Allah itu seperti apa?“Kenapa kita gak bisa lihat Allah? Kenapa kita harus nyembah Allah?” 

pertanyaan-pertanyaan ini jika kita kurang tepat dalam menjawab, bisa berakibat menanamkan konsep yang salah kepada anak,🙈

untuk itu kita HARUS BELAJAR, dari yang lebih berilmu, para guru. Kalau tentang keimanan tentu kepada para ustadz ustadzah yang lebih berkompeten.

nah tapi terkadang, meskipun kita telah bertanya, telah mencatat, tapi kesulitan menjelaskan kembali kepada anak-anak.😅

Oleh karena itu memang, perlu amunisi pendukung berupa media edukasi yang relevan. Kalau saya, salah satunya menggunakan buku☺berikut ini saya share beberapa jawaban yang kira-kira mudah diterima anak, disertai visualisasi dari buku yang saya punya ya ☺🙏

Q: “Bu, Allah itu siapa sih?”

A :“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kakak.”
Ibu-ibu dapat berimprovisasi menunjuk segala sesuatu di alam semesta, bintang, bulan, matahari, pasti ada yang mencipta kan. Allah lah Sang pencipta tersebut..

Q: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”
jangan sampai mnjelaskan dengan  “Bentuk Allah itu seperti anu.. ini.. atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

sebaiknya dijawab: “Nak, tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kakak sebutkan”

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬اۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
Q: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?” 
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih anak berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari Saja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

Atau bisa juga beri jawaban:
“nak, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. kita gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”
Q: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”
A: “Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.”

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa kita kupas, karena keterbatasan diri, sehingga hanya bisa meberikan pemaparan singkat dari buku yg saya punya, buku Ensiklopedi Bocah Muslim.. 

Semoga bermanfaat dan bisa digunakan untuk membantu memantik fitrah iman anak 😘

Sebagai penutup, note yang bisa saya ambil adalah: Salah satu ciri ilmu yang bermanfaat itu, menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Alloh 😘

Demikian, mohon maaf apabila ada banyak keurangan. Wassalamu’alaikum dan…

Selamat melanjutkan aktivitas ☺
Source : fasil 25, bunda ila 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: