Menari di atas batas

Leave a comment

24 September 2018 by Naima

Akan ada masa dimana kesulitan tak bisa dihindarkan, liukan liukan manis yang mengangan ternyata tak selincah itu dalam kenyataan. Benturan benturan seakan menjadi gerak harmoni yang mengayun dari satu sisi ke sisi lainnya. Begitu beraturan.

Untuk itu

Dalam bukunya, Ustadz Salim mengajak pembaca untuk kembali mereguk sejuknya kisah kisah mereka yang Allah berikan ujian untuk meneguhkan keimanan.

Pada masanya, kita mengenal Ibnu Taimiyah sebagai orang yang pemberani dalam mengakkan hak dan bathil sehingga sebagai balasannya ia harus menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam penjara karena selalu bertentangan dengan para penguasa.

Namun dalam segala keterbatasan yang mengekangnya, ia tetap terbang dengan kepakan indah. Mengkaji, mengajar dan menulis seakan sudah menyatu dengan nafas. Tinggi nun dinginnya jeruji tak menjadi penghalang baginya untuk tetap berkarya, bahkan saat tinta, kertas dan pena dijauhkan darinya tarian indahnya tak pernah terhenti. Ia jadikan arang sisa perapian sebagai pengganti pena dan tinta juga dinding penjara sebagai kertasnya.

Pada masanya, kita mengenal sosok Salman Al-Farizi sebagai orang yang cerdik juga penuh dengan kelapangan hati. Kisah ini sangat terkenal dari zaman ke zaman. Bagaimana rekahan senyum bahagianya membuat siapa saja yang membaca kisah itu akan tertunduk mengharu.

Inilah Salman, yang merelakan wanita pujaan hasil istikharahnya untuk menikahi sahabatnya sendiri, dengan mahar apa yang sudah Salman persiapkan bagi wanita itu. Maka tak heran, jika dalam bukunya Ustadz Salim memerintahkan pembaca untuk bertanya pada Salman tentang apa itu cinta karena Allah. Karena cinta itu telah ia (Salman) gugurkan hanya demi mendapat keridhaan Allah.

Pada masanya, kita mendengar sosok cicit Rasulullah dari Husain bin Ali yang masa kecilnya harus ia habiskan sebagai yatim piatu setelah keluarganya harus menjadi korban kekejaman di padang karbala. Inilah ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain yang ketika ditanya “Apakah dia tidak dengki kepada Bani Umayyah atas apa yang telah dilakukan mereka kepada keluarganya?”

Jawab ‘Ali, “Aku selalu tanamkan pada diri ini, bahwa dengki itu sama saja dengan engkau menenggak racun yang sudah sampai usus dan berharap musuhmulah yang akan mati karenanya.” Tidakkah cicit Rasulullah ini benar-benar mewarisi keagungan sifat Rasulullah dan juga kecerdasan Ali?

Atau satu lagi keturunan Ali yang bukan termasuk Ahlul bait karena terlahir beribundakan wanita dari Bani Hanifah, ia pernah dipanasi bahwa ayahandanya ‘Ali lebih mencintai Hasan dan Husain ketimbang dirinya. Namun jawabannya memesona, katanya “tidak begitu kawan, Hasan dan Husain itu bagaikan kedua mata bagi ayahku. Adapun aku, aku adalah kedua tangannya. Sehingga sudah sepatutnya tangan melindungi kedua mata.”

Dan benarlah, ia abdikan diri sampai Hasan wafat karena diracun juga Husain wafat dengan kisah yang meninggalkan kepedihan. Mungkin saja ia dendam, ia marah pada penguasa bani Umayyah. Namun ia tetap menjawab semangat panggilan jihad yang digaungkan Yazid bin Mu’awiyah. Ketika orang-orang menolak dengan kalimat kasar juga menjelek jelekan Yazid bahkan menghasutnya dengan kalimat “ Apa yang akan kau katakan dihadapan Allah juga ayahmu, juga saudara saudaramu, jika kini kau berperang di bawah panji panji Umayyah?”

Apa jawabnya? Dalam senyuman ia berkata “Ayahku kini membersamai Rasulullah di surga tertinggi, sementara suadara- saudaraku adalah penghulu para pemuda di sana. Kezhaliman Bani Umayyah adalah urusan mereka dengan Allah. Urusanku kini adalah berjihad di jalan Allah dan menaati Ulil Amri.”

Benarlah kiranya apa yang dituliskan Ustadz Salim dalam bukunya. Bahwa jiwa jiwa ini telah mengangkasa, mereka telah menari di atas batas. Mereka merdeka sebagai budaknya Allah. Mereka tak pernah mengekang apapun, mereka merelakan apa yang tergaris karena kecintaan mereka pada yang menciptakan mereka.

Lantas, adakah orang orang yang menari di atas batas pada masa ini?

Mungkin banyak, ratusan, jutaan, puluhan juta, ratusan juta, atau mungkin tak terhingga yang kisahnya tak bisa kita dengarkan. Namun ada satu kisah yang tidak pernah dibaca atau di dengar dari sambungan mulut. Kisah ini benar benar disaksikan oleh mata sendiri, di dengarkan dengan tegak telinga sendiri.

Ia adalah seorang wanita paruh baya, sekilas tak ada yang istimewa dari sosoknya. Dia pintar? Bahkan jenius bagi saya. Dia wanita tegas, dan sulit dibantah. Namun ternyata, dibalik itu ialah sang penari di atas batas itu.

Merdu suara juga lembut rangkulnya tak mungkin saya lupa, takayasu arteritis telah menggerogoti tubuhnya, meninggalkan banyak rasa sakit yang menjalar dari satu sisi tubuh menuju sisi yang lainnya. Ketika banyak dari kita yang mungkin akan mengeluh dalam letih, atau merintih dalam sakit. Maka beliau berbeda, kalimat indahnya “Fa, ini bukan musibah tetapi ini adalah anugerah. Ibu bersyukur atas apa yang Allah takdirkan. Lebih memacu ibu untuk terus menjadi bermanfaat bagi orang lain.”

Kalimat “menjadi bermanfaat” sungguh tak pernah bisa hilang dari kepala. Ia yang dalam sakitnya, dalam lemahnya, dalam “kekurangannya” itu tetap bisa menari di atas batas, tetap bisa terbang dengan iringan kepakan sayap akan membuat kita sadar, mengapa kita dengan segala kenikmatan, juga kelapangan bahkan “kesempurnaan” tak bisa melakukannya.

Kita tak kehilangan keluarga selayaknya ‘Ali Zainal ‘Abidin yang kehilangan ayahnya Husain, kita tak dipenjara selayaknya Ibnu Taimiyah, kita juga tak berduka karena cinta seberat Salman. Namun rasa-rasanya ada batas tinggi yang membuat kita menari hanya dalam satu kotak sempit, pengap layaknya penjara. Ada satu beban berat layaknya kehilangan cinta ataupun anggota keluarga yang membuat kita senantiasa menenggak racun sampai usus dan berharap musuh kitalah yang mati karenanya.

Kita membuat batasan yang bahkan jauh dari batas yang telah ditembus oleh mereka mereka yang menyejarah. Kita (terkhusus saya) merasa sudah berjalan sangat jauh dan sangat sulit, padahal ternyata jalan itu masih itu itu saja, dari dan menuju ujung yang sama sama saja. Masih dalam kotakan sempit itu saja.

Sehingga kita belumlah menari di atas batas.

Sampainya kisah mereka ketelinga kita, agaknya Allah ingin agar kita berhenti berjalan di kotak itu, berhenti menari di tempat. Allah ingin kita menari dengan batasan yang jauh, karena kita punya pilihan, kita punya pilihan untuk memilih apa yang telah mereka mereka pilih. Yakni menerima apa yang Allah takdirkan, dan tidak membuat diri kita terbatas. Seakan Allah berkata “Fa,menarilah di atas batas. Seperti Ibnu Taimiyah yang menjadikan arang sebagai pena dan dinding sebagai kertas, seperti Salman yang memahami hakikat cinta karena Allah, seperti ‘Ali zainal ‘Abidin yang tak mendengki bani Umayyah, juga seperti Muhammad bin Hanafiyah yang kokoh menjadi perisai bagi saudaranya.”

Tulisan indah Ustadz Salim dalam penutupan halaman 442 ini terlalu sayang jika tak kita renungkan. Tulisnya,

Dengan nikmat Allah yang begitu besar atas jiwa dan raga ini, apa yang harus kita katakana pada “Amr ibn Al-Jamuh, Ahmad Yassin, dan orang orang yang semisal mereka saat kita disaput diam dan santai? Dengan kemudahan ini, berkacalah kita pada Abu Ayyub Al-Anshari yang diusia 80 tahunnya bergegas-gegas ke Konstantinopel, menjadikan pedangnya sebagai tongkat penyangga tubuh sepanjang jalan. Dan apa jawab kita saat kita ingat bahwa ia punya ‘udzur, tapi dia justru bertanya “Tidak tahukah engkau, Nak, bahwa ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya,’berangkatlah kamu dalam keadaan ringan maupun berat!’?”

Selamat menari di atas batas. Selamat belajar hakikat cinta karena Allah yang sesungguhnya.

Wallahu’alam

Pangalengan, 14 Muharram 1440 H

Ba’da isya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: