Review seni tinggal di bumi

4

19 October 2018 by Naima

Judul : seni tinggal di bumi
penulis : Farah qoonita
penerbit : kanan publishing
jumlah hal : 179 hal

Karena kita tinggal di sepetak kerajaan-Nya, maka ketahui seni tinggal di sana. Begitu kalimat penggoda yang teh qoon –begitu ia disapa, tulis pada sampul akhir buku juga pada wadah kemasan buku yang manarik.

Dari segi pengemasan, buku ini akan membuat kita terkesan karena dikemas dengan sebuah amplop berwarna coklat yang cantik, padahal biasanya buku buku berkemasan hanya buku-buku bundel yang berseri.

Pada awal bab, kita akan dilambungkan dengan rasa percaya diri, karena katanya setiap dari kita punya kapasitas dan potensi yang sebanding dengan jalan yang telah digariskan, selain itu kita juga punya Dia yang bisa membuat ketidaklogisan pada irisan antara logis dan tidak logis, sehingga harapan tak lagi membuat kita ketakutan.

Selanjutnya buku ini mengajak kita berkelana pada abad – abad silam. Kita akan ditelanjangi ketika mengetahui bahwa alangkah kurang berterima kasihnya kita dalam mensyukuri satu tangan. Padahal pendahulu kita yang belum mengenal benda persegi canggih bernama computer yang akan meminimalisir kepegalan tangan kita ketika menulis tidak pernah surut niat dan semangat dalam menyampaikan kebaikan.

Sejarah mencatat bahwa guru Imam Bukhari yakni Ubaid bin Ya’isy, selama 30 tahun tidak pernah makan malam dengan tangannya karena sibuk menulis, maka saudaranya lah yang akan menyuapinya. Atau ibnu manzhur yang akan menyiapkan bejana berisi air, agar ketika kantuk datang ia dapat bersegera mengusir kantuk dengan mengusapkan air ke wajahnya. Atau juga Seperti Abu Abdillah yang bahkan menulis sambil berendam ketika musim panas tiba.
Dan hasil buah tangan mereka bukan main, Ibnu Main meninggalkan 100 rak buku beserta 14 wadah besar berisi karya tulisnya selama hidup. Ibnu Syahim yang menghasilkan 330 karya tulis. Ibnu Aqil yang menulis sekitar 20 buku dari berbagai disiplin ilmu yang karya terbesarnya adalah Al-Funun terdiri dari 400 jilid bahkan sebagian ulama mengatakan 800 jilid.

Luarrr biasaa.. gelora mereka dalam mencintai ilmu benar-benar tak layak jika hanya diacungi 2 jempol saja. Terbayang sudah berapa ratus buku yang sudah mereka lahap untuk menjadi bekal dalam menulis.

Selain itu kita juga diberitahu mengenai orang-orang yang “sok kaya” yang berani menghamburka hamburkan hartanya. Kita akan dikenalkan dengan seorang wanita bernama Ummu Sulaim yang dengan sok kaya nya berani memberikan bubur bayi terakhir milik anaknya kepada seorang pendatang yang tak dikenalinya, sehingga ia harus menidurkan anaknya agar tidak menangis kelaparan. Atau seorang lelaki bernama Abu Bakar yang dengan beraninya menginfakkan seluruh hartanya, ia berkata “Aku sisakan untuk keluargaku Allah dan RasulNya.”.

Atau yang tak kalah dari itu, seorang lelaki yang tengah tidur di pembaringan dikenal dengan nama Salman Al-Farisi dalam keadaan menanti ajal menangis tersedu-sedu karena ia takut telah mengambil harta terlalu banyak untuk dirinya sendiri, padahal harta di rumahnya hanyalah wadah untuk minum dan berwudu. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi “sok kaya” seperti itu, padahal bisa jadi kita yang Allah gelimangkan harta saja selalu merasa tak puas dengannya. Ternyata mereka yang sok kaya ini adalah mereka yang hartanya selalu ada di tangan, tidak tertanam di hati yang lantas melenakkan. Lagi lagi kita dipermalukan.

Pada bagian bagian yang lain kita akan diberi tahu tips anti baper juga alasan kenapa kita selalu baper. Ternyata alasan mengapa kita mudah baper adalah kurang kesibukkan, terlalu banyak waktu luang justru seringnya membahayakan menjadikan kita kurang produktif dan malah jadi ahli dalam bawa perasaan. Sedikit sedikit baper. Tapi tenang, penulis dengan baik hati telah memberi tahu rahasia penawar penyakit baper ini yang ternyata sudah dibocorkan 14 abad yang lalu. Wuidihhh.. tipsnya Allah sendiri yang turunkan, yakni ayat ke 1-7 surat Al-Muzammil yang intinya ialah perintah untuk sholat malam.

Buku ini juga membahas tentang “kewanitaan”. Wanita itu memang paling mudah dijangkiti wabah baper, untuk urusan cinta pun begitu. Maka buku ini membimbing kita aga baper cinta pada koridor semestinya. Jika ustadz Salim mengajak kita bertanya tentang cinta karena Allah pada sahabat Salman Al-Farisi, lain hal dengan buku ini, disini kita akan diberi tahu tentang makna cinta sejati. Katanya, ‘cinta sejati itu, saat kau bahkan melupakan-Nya, Ia tetap memberikan seluruh kasih sayang-Nya. Menunggumu kembali. Membuka pintu maaf yang amat luas, bahkan jika kesalahanmu sebesar gunung. Tidak ada yang lebih sejati dari cintanya Allah. Sumber kebahagiaan yang tidak pernah mengecewakan.”

Kita juga diajak jatuh cinta menggunakan otak, dengan rumus Al-isra ayat 32. Agar tidak ada hormon semisal dopamine, oksitosin, adrenaline juga vasopresi yang akan mematikan amigdala, system siaga rasa takut juga cingulated-corteks, system berpikir kritis yang akan membuat kita baper atau lebih parah “sakaw cinta”

Pembahasan kewanitaan lainnya adalah, ketika penulis menyadarkan kita dengan membuat kita tertawa seraya meledek diri sendiri pada sub-bab berjudul “dari ketinggian”. Bagini tulisnya,
pantas saja urusan masuk surga tidak ada kaitannya dengan bentuk rupa, warna kulit, tinggi badan, apalagi merek pakaian. Karena masih dari langit bumi saja, manusia sudah tidak kelihatan. Bagaimanalah dari ketinggian Arsy di langit ketujuh sana. Capek-capek kamu mikirin bentuk hidung, pipi, mata, rambut. Bersusah payah mutihin kulit. Ngabisin berjam-jam untuk memoles wajah dengan riasan yang harganya super mahal. Biar apa? Biar cantik. Ehh, tapi gak keliatan. Gak ngaruh.

Betulkan? Bagi wanita tampil cantik itu katanya wajib, mesti, diusahakan. Sampai lumutan pantengin kaca hanya agar terlihat dengan tampilan menawan dan jentikan sempurna. Ehh, tapi gak keliatan karena yang terlihat katanya hanya amal baik yang melayang-layang yang akan ditangkap riang malaikat dan juga dosa-dosa yang melayang layang lalu ditangkap malas malaikat. Jadi ternyata lumutan di depan kaca sama sekali tidak ada artinya, toh langit tak akan melihatnya. Apalagi pemilik langit.

Buku ini secara tidak langsung mengajarkan kita untuk menjadikan keridhoan Allah berbalas surga sebagai patokan hidup. juga persiapan untuk menghadapi hari akhirat sebagai panduan agar kita menggeruk usaha untuk berbekal sebaik baiknya dan sebanyak banyaknya, karena masa muda termasuk dalam 4 pertanyaan maha penting yang akan Allah tanyakan kelak kepada kita.

Contohnya pada sub-bab berjudul masa muda, kita disitir untuk mengingat kembali sosok Muhammad Al fatih yang diusia 21 tahunnya sudah bisa membebaskan konstantinopel, sebuah bisyarah yang disebutkan Rasulullah akan ditaklukan oleh sebaik baik pemimpin dan sebaik baik pasukan, perjuangan 6 abad yang dilakukan pendahulu-pendahulunya mampu ia sempurnakan dalam usia semuda itu!.

Kalau kata ustadz felix, bukan apa yang sudah dia hasilkan yang kita kagumi, tapi apa yang sudah dia lakukan sebelumnya yang harus kita kagumi. Lantas masa muda seperi apa yang dijalani pemuda bernama asli Mehmed II ini? Ternyata memang bukan main, benar perkataan Rasul bahwa pembebas konstantinopel adalah sebaik baik panglima. Bagaimana tidak, diusia 8 tahun ia hafalkan seluruh ayat Al-qur’an , ia kuasai bela diri, memanah, berkuda, berenang, strategi perang, ilmu fiqih, hadits, astronomi dan matematika. Ia kuasai, bahasa arab, turki, Persia, ibrani, latin dan yunani. Dan pada usia 19 tahun ia telah diangkat menjadi seorang raja.

subhanAllah. Dan tak kalah penting dari semuanya, semenjak baligh sampai ia wafat tak pernah ada satu malam pun yang ia lewati tanpa sholat tahajud. Luar biasa.

Cara Muhammad Al-Fatih menghabiskan masa muda harusnya melecut kita, membuat kita berazam bahwa ini masih belum terlambat untuk memperbaiki kebiasaan masa muda kita yang benar-benar jauh dari kata produktif. Jangan sampai kita termasuk dalam barisan islam garis letoy, seperti sebuah judul yang teh qoon tuliskan.

Islam garis letoy adalah antonim dari islam garis keras. Apabila orang-orang yang berhijab panjang, berjanggut, bercelana cingkrang, pengamal Al-Qur’an, pengkaji hadits, penegak sunnah dianggap islam garis keras. Maka tentulah kebalikan dari itu semua pantas digelari islam garis letoy.

Dalam isinya, teh qoon mengingatkan kita akan sebuah masa kelam saat muslim dengan mudahnya terpedaya, ter-letoykan dari agamanya sehingga pada hari ini kita mendapatkan konsekuensi yang luar biasa menyakitkan, yakni dengan kehilangan kekuasaan di negeri tercinta kita palestina.

Kita diingatkan bahwa akibat dari ke-letoyan itu,hari ini kita bisa melihat bahwa wanita wanita di suriah, banyak yang dijadikan pemuas nafsu para sopir penjara yang biadab. Kita bisa mendengar bahwa saling berbohong antara ayah dan anak adalah hal satu satunya yang membuat mereka bahagia, berkata bahwa kehidupan mereka baik-baik saja padahal kenyataannya, kapanpun timah panas bisa saja melubangi kepalanya. Ternyata kehidupan nyaman kita disini tak bisa mereka rasakan disana. Ternyata kita memang sudah terlalu terlena dengan kenikmatan ini sehingga tanpa kita sadari bahwa diluar sana, saudara kita justru tengah menderita.

Seni tinggal di bumi, akan mengajarkan kita banyak cara untuk benar-benar memahami bagaimana seharusnya kita hidup disepetak kerajaanNya. Bacaan ringan ini jelas berisikan hal-hal besar mengenai kesyukuran dalam hidup. betapa kita memang terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tak akan Allah hisab, dan melupakan hal-hal yang sudah jelas-jelas akan Allah hisab kelak.

Seni tinggal di bumi, mengingatkan kita kembali pada hari dimana kelak kita akan bertemu denganNya. Ketakutan di suatu tempat nun jauh entah dimana. Dihadapkan pada sidang dengan saksi bunyi tubuh kita sendiri, tak ada yang bisa membantu.

Karena Allah dengan jelas mengatakan dalam Al-qur’an bahwa hari itu adalah hari dimana tidak ada persahabatan dan jual beli. Dinar dirham tak berlaku disana. Disodori sekoper dolar yang harga satuannya 15 ribu rupiah malaikat tetap menggeleng, tak akan mau menambahi amal baik kita ataupun mengurangi amal buruk kita.

Orang-orang yang punya koneksi setingkat pejabat Negara, presiden atau bahkan raja tetap tak akan bisa meminta bantuan mereka. Hanya amal sholeh yang kita butuhkan. ada kisah menarik yang ingin dikutipkan lengkap dari buku ini. Judulnya “ruang sidang mencekam”

“aku harus banding!” ucapku dalam hati berulang-ulang. Jelas-jelas aku kalah telak di persidangan ini. Saksi-saksi itu terlalu banyak berbicara!
Peluhku menetes deras. Jantungku berdegup tak karuan,susah payah kutahan agar aku tidak menangis. Aku panik nasibku diujung tanduk.

Bagaimana ini!

“Yang Mulia, saya menjadi saksi bahwa dia telah mencuri”
“Yang Mulia, saya menjadi saksi kalau dia telah berbohong, mencemarkan nama baik, dan menebarkan kebencian!” para saksi berbicara lantang dan meyakinkan.
“kesalahannya amat banyak Yang Mulia, ia patut mendapatkan hukuman pasal berlapis!” tambah saksi lainnya

Aku melotot memberikan kode agar mereka diam, tapi nihil. Tak berpengaruh sedikitpun. Mereka terus memberi kesaksian tanpa takut.

Air mataku meleleh. Para saksi menyebalkan itu dulu adalah tanganku, kulitku, dan semua anggota tubuhku.bagaimana bisa kalian mengkhianatiku saat ini. Aku menangis, menyesal, memohon ampun, tapi Yang Mulia tak bergeming.

Tuhan, ruang sidang ini mencekam sekali.
Detik detik keputusan pengadilan akan ditentukan. Timbangan amalku doyong ke kiri.

Ini buruk sekali!

Aku menelan ludah

Lalu tiba-tiba…
“BRAK!”

Semua peserta sidang menoleh.siapa itu yang lancang mendobrak pintu dengan amat kencang?

“Tunggu Yang Mulia! Saya mengajukan banding!” ucapnya lantang.

Seorang pemuda tampan dengan pesona memancar nan menyejukkan tiba-tiba hadir ke tengah ruang sidang. Siapa gerangan kau mau membantuku di saat sahabat terbaikku pun acuh sambil lalu

“Yang Mulia, dulu dia di dunia adalah sahabatku. Sering membaca, menghafal dan mempelajaraiku. Aku memohon agar ia diberikan pertolongan dan kemudahan saat melewati tiap tahap negeri akhirat!” paparnya mengajukan banding dengan jelas.

Air mataku mengalir deras

Al-qur’an! Dia Al-qur’an yang dulu sering ku baca! Tak ku sangka dia akan jadi pembelaku hari ini.

Yang Mulia tersenyum

O, Allah semudah ini nasibku berbalik. Lalu perlahan timbangan amalku bergerak perlahan kearah kanan
Aku menangis haru. Memeluk Al-Qur’an erat. Berterima kasih berulang – ulang padanya dan pada Yang Mulia atas pertolongan yang mereka berikan.

Tahu, kisah ini hanya fiksi. Tapi dengan begini kita jadi bisa membayangkan bahwa kelak memang semenakutkan itulah keadaannya.

Tulisan ringkas ini, hanyalah sebuah penyambung pesan yang ditulis oleh teh qoon pada bagian terakhir. Tulisnya,”aku harap jika kamu menemukan kebaikan di dalamnya, kamu tak sungkan membagikan kebaikannya pada orang lain”

Buku seni tinggal di bumi ini, lebih dari sekadar mengandung kebaikan ia juga mengandung banyak hikmah serta pelajaran sehingga ulasan singkat ini semoga benar-benar bisa menjadi penyambung amal sholeh bukan hanya bagi teh qoon saja. Sehingga kelak ringan tangan ini bersaksi di hadapan Yang Mulia hakim bahwa setidaknya pernah ada segores kebaikan yang dilakukannya.

Recommended book.

Pangalengan, 15 Oktober 2018

Advertisements

4 thoughts on “Review seni tinggal di bumi

  1. kalau mau beli bukunya dimana ya?

    Like

  2. Niya says:

    seneng banget baca reviewnya, menarik banget tulisan dan kata-kata yang di sampaikan hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: