Jati diri

Leave a comment

23 October 2018 by Naima

Pernah mengikuti upacara kemerdekaan? Tentu! Biasanya akan kita dapati para pengibar bendera khususnya petugas di sisi kanan sebelum melepaskan bendera untuk berkibar lebih tinggi, mereka akan terlebih dahulu mencium ujung daripada bendera tadi. Awalnya, kaget! Lahhh.. dicium. Pernah?

Atau pernah kah kita bertanya, mengapa sebuah bendera begitu penting kehadirannya?. Bahkan dulu ketika reuni akbar 212 berlangsung, pernah ada kasus yang diangkat hanya gara gara bendera tauhid berada pada urutan paling atas dan bendera Indonesia berada di urutan paling bawah setelah bendera palestina. Se urgent itu kah urutan bendera, sehingga si pengangkat kasus sampai meminta agar orang yang melakukannya ditangkap. Wihhhh…

Ternyata, bendera merupakan identitas dan jati diri dari suatu Negara. Bagian penting yang menjadi lambang tinggi suatu Negara.

Maka pantaslah Mush’ab bin Umair begitu kukuh memegang bendera islam hingga raga meregang nyawa. Karena itu identitasnya. Juga kita tak akan heran kepada Ja’far yang rela kehilangan dua tangannya hanya karena mempertahankan bendera kaum muslim. Karena itu jati dirinya.

Sahabat sahabat nabi ini, yang sudah jelas kedudukannya di surga. Tak pernah mau sedikitpun “identitas” mereka terkoyak, tak rela secuil pun “jati diri” mereka menyentuh tanah. Jelas, ini bukan hanya perkara panjang kali lebar ukurannya, atau jenis kain yang digunakannya. Melainkan ini mengenai kalimat yang tertulis diatasnya.

Akhir akhir ini kita benar benar diganggu dengan perkara bendera. Diawali dengan kasus urutan bendera tauhid yang menunggangi sang saka, disusul dengan kekeliruan bendera utsmani yang disangka bendera Rasulullah, hingga kasus pemenjaraan orang yang menulis kalimat tauhid diatas merah putih. Dan yang paling mengiris, mengganggu, menggeramkan, menggemas-kan adalah kasus pembakaran bendera tauhid oleh oknum tak bertanggung jawab.

Kita tentu mencintai Indonesia, karena disinilah kita dilahirkan, dari hasil bumi Indonesia lah kita tumbuh, di atas tanahnyalah kita berkehidupan, dan di dalamnya kita berkewarganegaraan. Setiap anak negeri yang pergi nun jauh ke tanah rantauan, bisa jadi tanah pijakan mereka berbeda namun bisa kita pastikan bahwa tujuan mereka sama. Mereka ingin agar Indonesia jauh lebih baik lagi. Suatu masa nanti mereka akan pulang untuk membangun Indonesia yang mereka cintai.

Mencintai Indonesia tentu sepaket dengan atributnya, termasuk bendera.

Namun jangan lupa, Indonesia milik Allah. Hanya atas izinNyalah kita bisa tenang tinggal diatas tanahnya (Indonesia), atas rezeki dari Nyalah kita bisa tumbuh dari hasil bumi negeri ini. Sudah sangat jelas, bahwa kecintaan kepada tanah air tak akan bisa mengalahkan kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Bahkan Allah dan RasulNya jauh lebih tinggi kedudukannya dibanding ibu bapak kita.

Sekali lagi, sebagaimana yang dilakukan para sahabat nabi. Kita tidak sedang mempermasalahkan panjang kali lebar ukuran bendera, ataupun bahan kainnya. Kita sedang mempermasalahkan kalimat diatasnya.

Kalimat yang jika mengutip ucapan Ustadz felix, kita ingin hidup dan mati diatasnya. Kalimat yang dalam Hadits qudsi disebutkan akan lebih berat dari tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi apabila ditimbang.

Apakah pantas, mereka yang menyebut dirinya muslim dengan bahagianya membakar bendera yang sama dengan bendera yang Mush’ab bin Umair tukar dengan nyawanya? Bahkan Mu’tah pernah menjadi saksi akan kesungguhan penjagaan tiga panglima mulia terhadap bendera itu. Bendera yang di atasnya sama sama tertulis kalimata Laa ilahaillallah Muhammadar rasulullah

Kalimat ini, pernah sumayyah perjuangkan dengan nyawanya. Kalimat ini pernah juga Khabab tebus dengan lepuhan punggungnya. Tak ketinggalan Bilal bahkan membayarnya dengan tindihan sesak nan membakar yang manyakitkan tubuhnya. Namun “mereka” malah membakarnya? Ckckck.

Manusia manusia penghuni surga ini telah membuktikan “jati diri” mereka sampai akhir hayatnya, dan oknum-oknum “menggemaskan” itu juga telah membuktikan “jati diri” mereka. Sekarang tinggal kita yang membuktikan “jati diri” kita.

Termasuk yang manakah kita?

Pangalengan, 23 Oktober 2018

Ba’da isya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: