REVIEW DREAM CATCHER

Leave a comment

19 December 2018 by Naima

If we could fight for what we love to do, for the things we believe in,
I am sure we are going to make the best decision for our future.

Buku Dream catcher ditulis oleh Mba Alanda Kariza yang resmi terbit pada tahun 2012. Buku ini berisi 217 halaman yang akan mengajak pembaca untuk menikmati mimpinya. Dalam buku ini bahkan Mba Alanda berkata bahwa ia pernah menjuluki dirinya sendiri sebagai pemimpi professional, saking banyaknya mimpi yang beliau miliki.

Dream catcher memuat 5 bab yang pada setiap babnya memiliki beberapa sub-bab menarik dan rinci. Bab pertama berjudul inventing your dream, yang dalam judul ini ada sebuah kalimat menyengat berbunyi “dreams are invented, we are not born with them

Disini kita juga diajak berkenalan dengan Tererai Trent, seorang wanita asal pedalaman Zimbabwe ini tidak disekolahkan oleh sang ayah karena ia akan segera dinikahkan, namun keinginannya untuk belajar amatlah besar sehingga ia sering mengerjakan tugas sekolah kakak laki lakinya. Trent sering menuliskan mimpi mimpinya pada sebuah kertas dan menguburnya dibawah batu besar. Dan ternyata satu persatu mimpinya dapat ia wujudkan.. tahun 2009 ia resmi memperoleh gelar doktornya.

Ada ragam kiat yang disajikan Mba Alanda pada pembacanya dalam buku ini, dan semua kiat ini harus didukung oleh persistence dan perseverance. Gigih dan tekun adalah kiat pertama yang harus dikantongi bagi para pemimpi, selanjutnya kita diminta untuk fokus, meyakini apa yang kita percayai, membuat pilihan sesuai prinsip yang kita miliki, membuat jaringan melalui berkenalan dengan banyak orang, konsisten, percaya diri meski kita berbeda, menjadi yang terbaik dan menjadi yang pertama juga kiat kiat yang lainnya.

Namun tentu, ada ragam alasan pula yang membuat kita tidak maju maju dalam menciptakan impian menjadi kenyataan ini. Alasan-alasan yang ada ternyata semuanya memiliki jalan keluar, meski tidak sederhana namun jika kita mau kita pasti bisa menemukan jalannya. Alasan alasan itu bisa karena kekurangan fisik, usia, jenis kelamin, keterbatasan finansial, juga kegagalan kegagalan yang melemahkan (seringnya).

Mengenai kekurangan fisik, ada kisah menarik dari dua orang yang ditemui oleh Mba Alanda, yang pertama bernama Mousa mosawy, lelaki yang seumur hidupnya duduk diatas kursi roda, dan Mohammed Lamarana barry yang mengidap penyakit AIDS yang entah karena apa penyebabnya. Berkat semangat hidup yang tinggi Barry ini bahkan tak pernah mengkonsumsi obat dalam hidupnya, Barry dan Mousa ini terus berkarya dan tetap bersemangat menebar manfaat dengan mengesampingkan kekurangan mereka.

Buku ini mirip dengan bukunya Bunda Nazwa, di dalamnya terdapat kolom kolom eyecatching yang menyenangkan untuk kita isi, kolom itu memuat seperti future map, bucket list, opportunities found dan banyak yang lainnya. Semakin membuat kita bersemangat menuliskan ragam hal yang kita impikan disana.

Mba Alanda sendiri adalah sosok yang sangat inspiratif, begitu banyak kesempatan yang ia dapatkan untuk mengembangkan diri baik itu ia ciptakan sendiri ataupun ia dapatkan dari orang lain, beberapa kali terpilih untuk mewakili Indonesia dalam forum forum international. Berkesempatan menemui banyak orang dan tak ia biarkan pertemuan itu berlalu tanpa sebuah pembelajaran. Dalam buku ini kita akan menemui begitu banyak orang orang inspiratif yang beliau kenal, yang kisahnya akan membuat kita ingin bersegera membuat bucket list dan mewujudkan satu persatu mimpi yang termuat disana.

Di bab bab terakhir, Mba Alanda meminta kita untuk berani berbagi, memilih prioritas, melakukan hal lebih dari orang lain, menyeimbangkan kehidupan, tetap sehat dan terus memperbaharui mimpi juga tetap bahagia.

Bagi saya, membaca buku ini bagaikan istirahat tenang setelah menghadapi ujian metode statistika (hoho). Setelah lelah mata melihat angka, dan lelah otak karena diajak berputar dengan rumus akhirnya bahu bisa relax sejenak dengan mata terpejam nikmat, yang setelahnya saya bersiap kembali untuk menggapai mimpi yang ternyata masih banyak sekali dalam bucket list belum tercentang (selesai).

Buku ini sangat baik dibaca bagi sesiapa yang percaya bahwa mimpi kita akan menjadi nyata. Tidak hanya menjadi fantasi semata.

Ehhh, ada kalimat terakhir yang ingin dikutipkan disini, kalimat yang disampaikan oleh ibunda Mba Alanda kepada anaknya ini. Kalimat itu berbunyi,

If you don’t do something for your heart, you will not get a maximum result;
but if you do something you love, you will.
in my opinion, you must follow your heart. What’s the point of looking great on the outside
if we are not happy inside? Look for happiness. Life is meant to be enjoyed –but hard work
and achievements are still necessary in order to gain respect from others.
those two things will make people not able to toy with you.

Selamat membaca, selamat bermimpi, selamat bersemangat untuk mendapatkannya.

Pangalengan, 19 desember 2018
Ba’da Ashar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: