BIJI SATUS

Leave a comment

12 August 2020 by Naima

BIJI SATUS
Di halaman ke 29 pada komik PJB 3, ada satu judul bertulis biji satus. Ceritanya, banyak anak-anak pun bapak bapak yang bermudah mudahan mengakhirkan waktu shalat agar tidak ikut berjama’ah, atau malah masbuk sehingga shalat yang tertinggal bisa dilakukan sendiri dengan ekspress.

Akhirnya si abah (tokoh utama komik) memberi tahu anak-anak, tentang keutamaan shalat diawal waktu lagi berjama’ah. Tapi masih kurang mempan, namanya juga anak. Terlintas sebuah ide, biasanya anak anak senang dengan nilai seratus (biji satus). Maka ia bekata “anak-anak siapa yang rajin shalat berjama’ah di masjid, maka ia yang paling mulia. Yang paling mulia itu oleh biji satus (mendapat nilai seratus).” Begitu katanya.

Esoknya, anak-anak sigap dishaf terdepan mengalahkan bapak-bapak. Katanya pingin biji satus 😀 . tentu oleh biji satusnya dihadapan Allah.

Ada lagi kisah oleh biji satus,
Kapan hari, seorang guru memberi satu soal kepada muridnya (ini kisah nyata) yang kunci jawaban hanya bisa didapat dari video ceramah salah seorang ustadz dengan durasi 1 jam lebih, ehhh tapi jawabannya sudah dibocorkan ada dimenit keberapa. Tinggal si anak teliti mendengarkan.

Ini soal turun temurun dari angkatan sebelumnya yang juga diperintahkan persis!

Soalnya hanya satu, tunggal tidak beranak pinak hohoho.
Ternyata dari 23 anak, hanya 9 yang berhasil mengerjakan, dan dari 9 anak hanya 4 orang yang mendapat nilai 100. Salah seorang santri yang saat itu hanya memperoleh nilai 80+ tiba tiba diadukan oleh si ibu pada si guru bahwa ia tengah menangis.

Dengan santai si guru bertanya kenapa sang anak menangis?
Ternyata jawabannya ajaib. Karena si anak ingin mendapat nilai seratus, ia sudah berusaha semampunya, pada tahun kemarin ketika kenaikan kelas ia mendapat peringkat 3.

ternyata ingin oleh biji satus juga seperti kisah di komik wkwkwk
Si ibu juga berpesan, agar jangan memberi anak tugas yang susah susah. Hehe jadi garuk garuk kepala.

Oleh biji satus.
Tak ada yang salah dengan ambisi mendapat nilai seratus. Hanya harus diketahui koridor oleh biji satus nya.

Dalam ranah pendidikan, membesarkan hati anak pun meluruskan tujuan mencari ilmunya jauh lebih utama dibanding menyemangati anak untuk mendapat nilai seratus atau ketakutan bila tak menduduki peringkat kelas.
Apapula arti mendapat nilai seratus bila tak faham, yang dicari itu pengalamannya, ketulusannya dalam menuntut ilmu dan kesungguhannya dalam mempelajari. Mendapat seratus atau tidak bukan masalah. idealnya begitu!

Ketika mempelajari sesuatu, niatkan “ini untuk menambah keimanan pada Allah”. Susah memang, apalagi bicara dengan anak “so baru gede” . Itu loh, anak anak yang fungsi akalnya belum begitu sempurna, namun perilaku sudah mendewasa.

Maka PR ibu menjadikan oleh biji satus itu bermakna ma’rifat pada Allah. Tak ada pengharapan selain keridhaan Allah bahkan dalam menempuh pendidikan sekalipun, kalaupun harus menyesal dan bersedih karena tak mendapat nilai seratus, biarlah karena nilai itu untuk mendapat keridhaan Allah, bukan untuk mendapat peringkat kelas.

Oleh biji satusnya harus diluruskan. PR maha besar rupanya, karena terlampau banyak orang salah persepsi tentang nilai seratus.
Semangat oleh biji satus di mata Allah

***

Ibu, katanya ibu itu adalah sumber cinta dalam rumah
tonggak peradaban, yang akan meng-adabkan satu generasi
ibu itu jantungnya
yang mendetakkan irama kehidupan dalam rumah
bila ibu redup, seluruh isi rumah melemah
bila ibu kuat berdetak, seluruh isi rumah sehat sentausa.

Ibu, katanya bila nilai paling tinggi adalah seratus
maka ibulah pemiliknya.
sehingga, peran sentral ibu selain menjadi ummu warabatul bayt
juga menjadi madrasatul ula

Ibulah yang akan menjadi peletak air pertama
untuk menumbuh kembangkan keimanan anak
dengan lisan ibu, anak akan belajar mengenal nama Allah
untuk mendapatkan nilai seratusnya.

Maka bu, bantu anak untuk senantiasa melibatkan Allah
jadikan keridhaan Allah adalah nilai seratus yang akan dan harus anak raih,
besarkan hati anak ketika ia gagal, kembalikan semangat anak ketika ia lemah

luruskan tujuan pendidikannya
bahwa ia tak belajar agar mendapat nilai bagus, tak pula mendapat peringkat
pun bukan agar pintar, juga berpenghasilan besar
apalagi untuk disanjung sesama manusia
bukan,bu!

Nilai seratus anak bukan itu
nilai seratusnya adalah ma’rifat pada Allah, bertambah keimanannya
seiring sejalan ia belajar

Bu, begitu mudah mengubah anak menjadi pintar
bersama guru profesional, konsistensi dan tentu saja tekad
dalam hitungan bulan ia akan berubah menjadi si pintar.
dan begitu payah, mengubah anak menjadi sibaik lagi benar.

padahal, bukankah standarisasi keberhasilan pendidikan terletak pada kabaikan akhlaknya?
bukankah tercapainya tujuan pendidikan ketika ia mampu menambah keimanan pada tuhannya?.
bukankah ibu hendak melahirkan generasi yang menjadi penerus para nabi?
yakni seorang ‘alim yang beramal.

maka bu bersamai keluarga untuk mendapat nilai seratus di hadapan Allah ya!

ehhh.. ini pesan khusus untuk ibu yang menulis wkwkwk dan umum bagi ibu yang membaca.

Pangalengan, 12 agustus 2020
21:40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: